<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS </title> 
				<description></description>
				<link>https://upm-millenium.com</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Perubahan Jadwal Penampilan UKM/UKK di PBAK 2026: Panitia Ungkap Penyebabnya</title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/perubahan-jadwal-penampilan-ukmukk-di-pbak-2026-panitia-ungkap-penyebabnya</link>
						                <description>UPM MILLENIUM, Jember – Jadwal penampilan Unit Kegiatan Khusus (UKK) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dalam rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember pada tanggal 2 Septemer 2026, mengalami keterlambatan pada hari pelaksanaan. Jadwal penampilan UKK/UKM UIN KHAS Jember yang semula ditiadakan kembali diadakan dan mengalami keterlambatan. Jadwal yang semula direncanakan pukul 14.00 WIB bergeser menjadi pukul 15.00 WIB akibat durasi sosialisasi Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang molor.Ketua Unit Bela diri Mahasiswa (UBM), Muhammad Fahmi Yahya, mengungkapkan bahwa persoalan bermula saat rapat bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN KHAS Jember. Dalam rapat tersebut, pihak Steering Committee (SC) menyampaikan bahwa penampilan UKK/UKM ditiadakan. Keputusan mendadak tersebut membuat para pihak UKK/UKM kecewa.Situasi berubah pada tanggal 1 September 2026 tepat satu hari sebelum penampilan UKK/UKM, sekitar pukul 14.00 WIB. Ketua DEMA UIN KHAS Jember mengabarkan bahwa penampilan UKK/UKM tetap dilaksanakan seperti sedia kala. Kabar tersebut membuat pihak UKK/UKM harus kembali mengumpulkan massa dan mempersiapkan penampilan dalam waktu singkat.“Kami sudah mempersiapkan penampilan sejak jauh-jauh hari, tetapi tiba-tiba dikabarkan penampilan ditiadakan. Kami sempat kecewa, sampai akhirnya sehari sebelum penampilan UKK/UKM sekitar pukul 14.00 WIB, dikabarkan kembali bahwa penampilan UKK/UKM jadi dilaksanakan kembali," ujar Muhammad Fahmi Yahya.Pada hari pelaksanaan, ketidakpastian kembali terjadi terkait rundown acara. Pihak UKK/UKM yang telah bersiap sejak sebelum pukul 14.00 WIB sesuai jadwal awal, harus menunggu tanpa konfirmasi dari panitia maupun DEMA UIN KHAS Jember. Minimnya komunikasi tersebut memicu kekesalan karena dinilai tidak menghargai waktu dan persiapan yang telah dilakukan. Menanggapi iformasi mengenai pembatalan penampilan UKK/UKM yang beredar, panitia PBAK memberikan klarifikasi. Panita PBAK 2026 menegaskan bahwa agenda penampilan UKK/UKM sejak awal telah tercantum dalam rundown acara. Panitia PBAK 2026 menyebut penampilan tersebut tidak pernah diniatkan untuk ditiadakan.           ”Sebenarnya kendalanya itu terkait pemoloran waktu, dari panitia penampilan UKK/UKM tetap diadakan,” ungkap panitia PBAK 2026. sMenurut Panitia, kendala utama di lapangan adalah kemoloran waktu akibat durasi sosialisasi Ormawa yang melebihi batas waktu. Hal ini berdampak pada mundurnya jam tampil UKK/UKM, dari semula pukul 14.00 WIB bergeser menjadi pukul 15.00 WIB.Pihak panitia turut menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan serta miskomunikasi antar UKK/UKM dan panitia yang terjadi. Sebagai bentuk tanggung jawab, panitia mengupayakan agar seluruh UKK/UKM bisa memerikan penampilan dengan maksimal.Pihak UKK/UKM maupun panitia memiliki harapan pelaksanaan PBAK pada tahun mendatang dapat dirancang dengan konsep yang lebih matang. Ketegasan dalam penyampaian informasi, eksekusi teknis yang rapi, serta koordinasi antarlembaga yang lebih mantap dinilai perlu ditingkatkan agar kendala serupa tidak terulang kembali.</description>
					                </item><item>
						                <title>Takjub! Aksi Memukau Papermob Wujudkan Esensi Muda Bergerak Berdampak di Hari Pertama PBAK UIN KHAS </title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/takjub-aksi-memukau-papermob-wujudkan-esensi-muda-bergerak-berdampak-di-hari-pertama-pbak-uin-khas-</link>
						                <description>UPM MILLENIUM, Jember – Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember pada Senin (31/8/26) menjadi pengalaman seru bagi mahasiswa baru dalam mengenal lingkungan akademik. Momen ini sekaligus menjadi ruang membangun kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar kampus.Salah satu momen yang paling berkesan bagi mahasiswa baru selama mengikuti rangkaian kegiatan pembukaan PBAK adalah penampilan papermob. Latihan yang dilakukan selama pra-PBAK di bawah terik matahari akhirnya terbayar melalui penampilan yang memukau. Kegiatan tersebut turut menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk membangun kekompakan, kedisiplinan, serta keberanian untuk tampil bersama.Putri Nur Hidayah, mahasiswa baru Program Studi Perbankan Syariah, mengaku sempat ragu apakah penampilan papermob akan berjalan sesuai harapan. Latihan yang melelahkan membuatnya sempat berpikir hasil yang diperoleh tidak akan maksimal. Namun, anggapan tersebut berubah ketika penampilan berlangsung."Momen yang paling berkesan bagi saya adalah saat mengikuti papermob. Ternyata penampilannya bagus sekali, latihan yang dilakukan tidak sia-sia karena hasilnya sangat bagus," ujar Putri.Selain menjadi pengalaman yang berkesan, pelaksanaan papermob juga mencerminkan semangat yang dibawa dalam tema besar PBAK 2026, yakni "Muda Bergerak Berdampak". Tema tersebut menempatkan mahasiswa baru sebagai generasi muda yang tidak hanya memiliki gagasan, tetapi juga berani mengambil langkah nyata. Tema ini juga mendorong mahasiswa baru memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.Menurut Presiden Mahasiswa, Bahrul Ulum, tema tersebut mengandung pesan agar mahasiswa baru tidak berhenti pada wacana dan teori yang diperoleh selama berada di bangku perkuliahan. Ilmu yang didapat di lingkungan akademik harus mampu diimplementasikan melalui tindakan nyata. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak sosial yang lebih baik bagi masyarakat."Kami ingin membawa pesan bahwa mahasiswa itu harus bergerak dan berdampak, dalam artian seluruh teori yang sudah didapat itu bisa dieksekusi agar menimbulkan dampak sosial yang lebih baik terhadap masyarakat sekitar," tutur Bahrul.Semangat tersebut juga tergambar dalam filosofi maskot PBAK 2026 yang melambangkan keberanian, kesiapan bertindak, serta profesionalisme mahasiswa baru dalam membawa perubahan positif.Selama mengikuti rangkaian PBAK, Putri mengaku belum menemukan kesulitan berarti. Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan justru terasa seru karena menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kegiatan pengenalan kampus.Kesan serupa disampaikan Afedat Mahmud, mahasiswa baru Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Dalam wawancara terpisah saat mengikuti PBAK, Afedat menyebut latihan papermob sebagai salah satu momen paling berkesan. Baginya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman seru, tetapi juga memperluas pertemanan."Momen yang paling berkesan selama PBAK adalah saat latihan papermob. Kegiatan tersebut sangat berkesan karena selain mendapatkan pengalaman seru, saya juga mendapatkan teman-teman baru," kata Afedat.Pengalaman selama PBAK menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan kampus. Berbagai kegiatan yang dijalani diharapkan mampu menumbuhkan kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, serta keberanian mengambil peran. Baik Putri maupun Afedat berharap UIN KHAS Jember dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif."Harapan saya semoga UIN KHAS Jember ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi dari yang sudah baik, semakin berkembang, dan memberikan dampak positif bagi mahasiswa maupun kampus," pungkas Afedat.Melalui PBAK 2026 dengan semangat "Muda Bergerak Berdampak", mahasiswa baru UIN KHAS Jember diharapkan tidak hanya menjadi generasi yang memiliki pengetahuan dan gagasan. Mereka juga diharapkan mampu bergerak, mengimplementasikan ilmu, serta menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.Penulis: Aina Yusela Oktaviana, Umi Farhatul Adawiyah</description>
					                </item><item>
						                <title>Pendidikan tak cukup Hanya Punya Sekolah</title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/pendidikan-tak-cukup-hanya-punya-sekolah</link>
						                <description> Indonesia sedang berupaya memperluas akses pendidikan. Sekolah Rakyat hadir untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu, sementara Universitas Republik Indonesia (URI) disiapkan sebagai wadah pendidikan tinggi bagi calon pemimpin masa depan. Kehadiran kedua kebijakan tersebut menambah wajah baru dalam upaya pemerintah memperluas ruang pendidikan, mulai dari jenjang sekolah hingga perguruan tinggi. Namun, di balik upaya tersebut, muncul persoalan yang tidak kalah penting: apakah memperluas akses pendidikan sudah cukup untuk mengatakan bahwa pendidikan Indonesia semakin maju, sementara kualitas dan fasilitas pendidikan masih belum merata?  Pertanyaan tersebut penting karena kemajuan pendidikan tidak cukup diukur dari bertambahnya sekolah, perguruan tinggi, atau program pendidikan baru. Perluasan akses harus berjalan beriringan dengan pemerataan fasilitas dan kualitas, termasuk melalui penguatan sekolah dan perguruan tinggi yang telah ada. Sebab, pendidikan yang maju bukan sekadar pendidikan yang mampu membuka lebih banyak akses, tetapi juga pendidikan yang mampu memberikan kesempatan belajar yang layak dan setara bagi setiap peserta didik.	Ketika Akses Bertambah, Ketimpangan Belum Hilang Kehadiran Sekolah Rakyat patut diapresiasi karena menunjukkan keberpihakan negara kepada kelompok masyarakat yang menghadapi hambatan ekonomi dalam memperoleh pendidikan (Kompas.com, 2025). Begitu pula dengan Universitas Republik Indonesia (URI) yang dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 80/P Tahun 2026 sebagai wadah strategis untuk mempersiapkan calon pemimpin masa depan di lingkungan instansi pemerintah maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).  Pada April 2026, Sekolah Rakyat telah menjangkau hampir 15.000 siswa di 166 lokasi di 36 provinsi, sementara pemerintah berencana membangun 10 kampus URI dengan skema pendidikan tinggi gratis melalui APBN. Namun, kehadiran URI juga memunculkan kekhawatiran mengenai potensi tumpang tindih dengan perguruan tinggi yang telah ada. Dekan Fakultas Pendidikan, Komunikasi, dan Sains Universitas Muhammadiyah Surabaya menilai keberadaan URI berpotensi menciptakan bias seolah-olah universitas pada umumnya tidak memiliki kapasitas untuk mempersiapkan calon pemimpin. Kedua kebijakan tersebut menunjukkan adanya upaya pemerintah memperluas akses pendidikan. Namun, banyaknya institusi yang dibangun belum dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan. Perluasan akses memang penting, tetapi belum cukup untuk mewujudkan pemerataan pendidikan. Pemerataan tidak hanya berarti setiap anak memiliki kesempatan untuk bersekolah atau setiap calon mahasiswa memiliki akses ke perguruan tinggi, tetapi juga memastikan bahwa mereka memperoleh kualitas pendidikan yang layak, mulai dari ruang belajar, fasilitas, tenaga pendidik, hingga teknologi dan lingkungan pendidikan (Arjang et al., 2024). Sebab, dua peserta didik yang sama-sama bersekolah belum tentu memperoleh pengalaman belajar yang setara apabila kondisi dan fasilitas pendidikan yang mereka terima berbeda. Kondisi sarana dan prasarana pendidikan di berbagai wilayah menunjukkan bahwa pemerataan fasilitas sekolah masih menghadapi tantangan. Sejumlah kajian menunjukkan adanya kesenjangan sarana dan prasarana antara wilayah perkotaan dan pedesaan, yang dipengaruhi oleh faktor geografis, perbedaan alokasi anggaran, serta kebijakan pemerintah yang belum merata. Pemerintah pun masih menjalankan program perbaikan sarana dan prasarana pendidikan yang menargetkan lebih dari 10.000 ruang kelas. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan fasilitas sekolah belum sepenuhnya selesai dan masih menjadi bagian penting dalam agenda pendidikan nasional. Karena itu, kehadiran institusi baru tetap penting untuk membuka kesempatan yang lebih luas, tetapi tidak boleh mengesampingkan sekolah dan perguruan tinggi yang telah ada. Perluasan institusi harus berjalan beriringan dengan penguatan lembaga pendidikan yang sudah berdiri agar akses tidak hanya bertambah, tetapi juga diikuti pemerataan kualitas dan fasilitas. Satu sekolah dengan fasilitas lengkap tidak dapat disamakan dengan sekolah yang masih kesulitan menyediakan fasilitas dasar. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup dilihat dari berapa banyak sekolah dibangun, berapa siswa diterima, atau berapa perguruan tinggi didirikan. Yang lebih penting adalah berapa banyak anak yang benar-benar memperoleh pendidikan berkualitas. Ukuran yang lebih penting adalah apakah anak di kota dan di daerah terpencil memiliki kesempatan belajar yang relatif setara, serta apakah siswa di wilayah dengan keterbatasan fasilitas memiliki peluang yang sama untuk berkembang. Indonesia boleh memperbanyak pintu menuju pendidikan, tetapi setiap pintu harus membuka kesempatan belajar yang layak dan setara bagi semua.Sekolah Rakyat dan URI Seharusnya Menjadi Bagian dari Pembenahan Sistem Sekolah Rakyat dan URI bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan dengan sekolah atau perguruan tinggi yang telah ada. Keduanya dapat menjadi bagian dari upaya negara memperluas akses sekaligus memperkuat sistem pendidikan. Sekolah Rakyat dapat menjadi jalan bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk memperoleh pendidikan yang sebelumnya sulit mereka akses (Kemendikdasmen, 2026). Sementara itu, URI dirancang sebagai wadah untuk mempersiapkan sumber daya manusia dan calon pemimpin bangsa. Akan tetapi, kehadiran keduanya tetap perlu berjalan beriringan dengan pembenahan pendidikan yang sudah ada. Jangan sampai perhatian terhadap institusi baru membuat sekolah-sekolah yang selama ini menjadi tempat belajar jutaan anak justru luput dari perhatian. Pemerataan pendidikan bukan hanya tentang memberikan kesempatan kepada kelompok yang belum terjangkau, tetapi juga memastikan sekolah yang telah berdiri mampu memberikan pendidikan yang layak.	 Sekolah Rakyat dan Universitas Republik Indonesia menunjukkan bahwa negara terus mencari cara untuk memperluas dan memperkuat pendidikan. Kehadiran keduanya patut dilihat sebagai bagian dari ikhtiar memperbaiki pendidikan Indonesia. Namun, pembangunan institusi baru tidak boleh membuat kita melupakan persoalan yang masih ada: ketimpangan akses, fasilitas, dan kualitas pendidikan. Pendidikan yang maju bukan sekadar pendidikan yang memiliki banyak sekolah dan perguruan tinggi, melainkan pendidikan yang mampu memberikan kesempatan belajar yang layak dan setara kepada setiap anak, tanpa membedakan tempat tinggal maupun kondisi sosial ekonominya. Maka dari itu, pemerintah tidak cukup hanya menambah ruang-ruang baru dalam dunia pendidikan. tetapi juga harus memperkuat sekolah dan perguruan tinggi yang telah berdiri melalui perbaikan fasilitas, pemerataan sumber daya, dan peningkatan kualitas pembelajaran. Pendidikan tak cukup hanya punya sekolah; pendidikan harus memastikan setiap anak memiliki tempat yang layak untuk belajar, tumbuh, dan membangun masa depannya. Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan Indonesia bukan tentang seberapa banyak institusi yang mampu dibangun, melainkan tentang seberapa sedikit anak yang tertinggal karena keterbatasan fasilitas dan kesempatan belajar yang layak.ReferensiAndeliyumna. (2026, July 27). Pemerintah bentuk Universitas Republik Indonesia (URI), siapkan calon pemimpin bangsa dari dunia pendidikan. Schoolmedia News. https://news.schoolmedia.id/berita/6665/pemerintah-bentuk-universitas-republik-indonesia-uri-siapkan-calon-pemimpin-bangsa-dari-dunia-pendidikanArjang, A., Utami, E. Y., & Redjeki, F. (2024). Utilization of social media and online platforms in improving customer engagement of fashion SMEs in Bali. West Science Business and Management, 2(1), 29–36.CNN Indonesia. (2025, January 20). Kemensos luncurkan Sekolah Rakyat: Akses pendidikan untuk semua. https://www.cnnindonesia.comDestian Rifki. (2025, May 3). Perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, kolaborasi berbagai pihak wujudkan Indonesia Emas 2045. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. https://www.kemendikdasmen.go.id/berita/12760-perbaikan-sarana-dan-prasarana-pendidikan-kolaborasi-berbagai-pihak-wujudkan-indonesia-emas-2045Humas Universitas Republik Indonesia. (2026a, July 23). Pemerintah bakal bangun 10 Universitas Republik Indonesia dengan kuliah gratis dari APBN. Universitas Republik Indonesia. https://uri.ac.id/pemerintah-bakal-bangun-10-universitas-republik-indonesia-dengan-kuliah-gratis-dari-apbn/Humas Universitas Republik Indonesia. (2026b, July 23). Tugas utama Universitas Republik Indonesia bentukan Presiden Prabowo. Universitas Republik Indonesia. https://uri.ac.id/tugas-utama-universitas-republik-indonesia-bentukan-presiden-prabowo/J. A. M. Rawis et al. (2024). Transformasi manajemen sarana dan prasarana pendidikan: Tinjauan teoritis dan pendekatan strategis di era digital. Jurnal Manajemen Pendidikan, 10(4), 55. https://doi.org/10.34125/jmp.v10i4.1213Kompas.com. (2025a, February 3). Sekolah Rakyat jadi solusi pemerintah kurangi anak tidak sekolah di kawasan miskin. https://www.kompas.comKompas.com. (2025b, February 15). Prabowo luncurkan Sekolah Rakyat untuk pendidikan inklusif berbasis komunitas. https://www.kompas.comRisky Ananda Putri. (2024, August 19). Pendidikan di wilayah terpencil: Tantangan pemerintah dalam pemerataan pendidikan di Indonesia. Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. https://www.setneg.go.id/Uly. (2026, May 8). Sekolah Rakyat hadir memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Sekretariat Jenderal. https://kemendikdasmen.go.idUswah Sahal. (2026, August 13). Universitas Republik Indonesia resmi dibentuk, pakar Umsura soroti konsep dan potensi tumpang tindih. Universitas Muhammadiyah Surabaya. https://www.um-surabaya.ac.id/article/universitas-republik-indonesia-resmi-dibentuk-pakar-umsura-soroti-konsep-dan-potensi-tumpang-tindihZakiatul Munawwarah. (2026). Analisis kesenjangan sarana prasarana pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Jurnal Pelita Pendidikan, Hukum, Ekonomi dan Teknologi, 2(2), 142. https://jurnalpelitanegribelantaraya.com/index.php/putat</description>
					                </item><item>
						                <title>Aksi Demostrasi Mahasiswa: Ratusan mahasiswa menggelar aksi penyampaian aspirasi di depan Gedung DPR</title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/aksi-demostrasi-mahasiswa-ratusan-mahasiswa-menggelar-aksi-penyampaian-aspirasi-di-depan-gedung-dpr</link>
						                <description>UPM MILLENIUM, Jember – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jember bersama kelompok mahasiswa Cipayung Jember menggelar aksi demonstrasi bertajuk Indonesia Cemas. Gerakan tersebut berpusat di lingkungan luar Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember, Senin (15/6/26).Aksi protes ini merupakan respons kolektif para mahasiswa atas berbagai permasalahan ekonomi dan politik di tingkat daerah maupun nasional. Massa aksi memulai pergerakan secara teratur dengan melakukan long march dari rute Double W Universitas Jember (Unej) menuju gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kegiatan demonstrasi tersebut menyoroti masalah tingginya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax serta kelangkaan ketersediaan produk Pertalite bagi warga. Selain itu, mahasiswa juga membawa diskursus terkait fenomena pelemahan rupiah dan beban program sasaran prioritas rezim baru pemerintah yang kontroversial.Koordinator Lapangan BEM se-Jember, Alfin Maulana menyatakan bahwa gerakan demonstrasi ini murni berangkat dari kesadaran terhadap ragam keresahan masyarakat kecil. Ia menegaskan kembali betapa pentingnya peran mahasiswa sebagai agen pengontrol kebijakan atas langkah pemerintah hari ini yang kerap kehilangan fokus."Gerakan ini merupakan hasil kerja kolektif dari seluruh kelompok mahasiswa di wilayah Jember untuk merespons pelbagai kejanggalan hukum dan kesusahan ekonomi masyarakat tingkat bawah. Kami sepakat menyuarakan isu naiknya harga bahan bakar harian dan menyoroti program prioritas presiden yang dirasa cukup menghamburkan anggaran," jelas Alfin.Alfin juga menyoroti bahaya masuknya akses Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan wewenang Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke dalam ranah kerja murni masyarakat sipil. Para mahasiswa pergerakan menilai dinamika perubahan jabatan wewenang semacam itu kini menjadi bentuk ancaman represi menakutkan bagi kebebasan iklim berdemokrasi.Perwakilan mahasiswa demonstran lainnya, Cinta Arum turut menambahkan bahwa kesulitan pemenuhan sistem ekonomi negara belakangan ini semakin membebani kelompok rentan seperti nasib para buruh perempuan. Keresahan struktural inilah yang pada akhirnya ikut memanggil aktivis muda untuk turun ke ruang publik secara kolektif."Mulai dari melonjaknya harga bahan pokok yang terasa sangat merugikan kaum sipil hingga ancaman represi oleh para penegak aparat berwajib di ruang aman. Kami semua akhirnya sepakat berjuang dan melayangkan kritik keras di jalanan karena miris melihat negara kaya ini belum juga berani untuk berdikari membangun bangsanya sendiri," tutur Cinta.Pemusatan aksi berada di kawasan Gedung DPRD murni agar badan legislatif daerah mampu menjembatani suara rintihan ekonomi kaum masyarakat miskin. Mahasiswa secara tegas meminta agar anggota dewan setempat segera menyampaikan segala daftar isi tuntutan aspirasi tersebut langsung kepada pejabat eksekutif pemerintah di wilayah pusat negara."Melalui agenda penyampaian aspirasi kolektif hari ini, kami menuntut dedikasi nyata dari perwakilan dewan hukum agar senantiasa berpihak pada keberlanjutan hidup rakyat banyak. Kami memiliki harapan besar agar setiap usulan yang ada kali ini segera dilanjutkan ke ranah kawan-kawan pemerintahan pusat demi menjamin hadirnya sebuah gerak revolusi perubahan di masa berikutnya," pungkas Alfin.Merespons tuntutan tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Jember, Ahmad Halim, yang hadir langsung menemui massa aksi bersama jajaran pimpinan dan pimpinan fraksi, memberikan tanggapan positif. Ia menegaskan bahwa jajaran legislatif menyambut baik aspirasi tersebut sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap bangsa."Kami di sini tentunya sama-sama merasa cinta terhadap negara kita. Jenengan, kami, adalah bagian dari negara Indonesia. Tentu mendengarkan aspirasi adalah bagian dari kecintaan terhadap negara kita," ujar Ahmad Halim di hadapan massa aksi.Ia juga menambahkan bahwa gerakan yang terjadi di Jember ini merupakan bagian dari gelombang penyampaian aspirasi yang tengah berlangsung serentak di tingkat nasional. Pihak DPRD berkomitmen penuh untuk mengawal tuntutan para mahasiswa agar bisa diteruskan ke tingkat pusat sesuai dengan koridor hukum yang berlaku."Apa yang jenengan sampaikan, terutama aspirasi ini, akan menjadi perhatian kami. Tentu apa yang menjadi harapan kita semua, akan dilalui melalui mekanisme perundang-undangan, serta apa yang menjadi keluh kesah masyarakat yang disampaikan oleh mahasiswa akan menjadi catatan kami, yang akan kami perjuangkan," pungkas Ahmad Halim sebelum menyerahkan kesempatan kepada wakil pimpinan dewan lainnya.Melalui agenda penyampaian aspirasi kolektif hari ini, mahasiswa berharap besar agar setiap usulan yang telah dicatat oleh DPRD Kabupaten Jember tersebut dapat segera dilanjutkan ke ranah pemerintahan pusat demi menjamin hadirnya sebuah gerak revolusi perubahan di masa berikutnya.Reporter : Nur Arifah Alfiyatul Ulum</description>
					                </item><item>
						                <title>J.S Khairen Adakan Bedah Buku Rumah di Jember dan Situbondo</title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/js-khairen-adakan-bedah-buku-rumah-di-jember-dan-situbondo</link>
						                <description>UPM
MILLENIUM, Jember
– Penulis nasional Jombang Santani Khairen atau J.S. Khairen menggelar
rangkaian bedah buku novel terbarunya berjudul “Rumah” di Situbondo dan
Jember, Jawa Timur berlangsung selama dua hari dari tanggal 13/5/26 hingga
14/5/26.
Acara tersebut dihadiri lebih dari 500 peserta dari kalangan pelajar,
mahasiswa, hingga pegiat lliterasi.Kegiatan
pertama dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Situbondo pada Rabu 13/5/26 pukul
10.00-12.00 WIB. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan (Dinperpusip) Situbondo bekerja sama dengan Gramedia Jember serta
didukung Perpustakaan Bank Indonesia (BI) Jember dan komunitas literasi
Situbondo.Acara
dibuka dengan sambutan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo. Selanjutnya,
moderator Lutfiah Indah Fardiyatin memandu jalannya talkshow interaktif bersama
J.S. Khairen.Dalam
sesi bedah buku, J.S. Khairen membahas isi novel Rumah sekaligus membagikan
proses kreatif penulisannya. Ia juga mengajak masyarakat, khususnya generasi
muda, untuk meningkatkan budaya membaca dan menghargai karya penulis dengan
membeli buku asli.“Budaya
membaca harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah. Buku bukan hanya
sumber ilmu, tetapi juga jendela untuk memahami kehidupan,” ujar J.S. Khairen.Rangkaian
acara kemudian berlanjut di Lantai dua Gramedia Jember pada Kamis 14/5/26 pukul
19.00-21.00 WIB. Acara yang dipadati ratusan peserta tersebut berlangsung
meriah dengan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab langsung bersama penulis.Dalam
kesempatan itu, J.S. Khairen kembali menekankan pentingnya membangun budaya
literasi di lingkungan keluarga.“Hadirkan
perpustakaan-perpustakaan kecil di rumah kalian,” ucap J.S. Khairen.















Antusiasme
peserta terlihat sejak awal acara hingga sesi penutupan. Kegiatan diakhiri
dengan book signing, foto bersama, dan interaksi langsung antara penulis dengan
para pembaca yang hadir.Kontributor : Lutfiah Indah Fardiyatin. sebagai Moderator J.S Khairen. </description>
					                </item><item>
						                <title>Diduga Tangkap Aktivis Tanpa Prosedur yang Sesuai, LBH Surabaya Ajukan Penangguhan Penahanan </title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/diduga-tangkap-aktivis-tanpa-prosedur-yang-sesuai-lbh-surabaya-ajukan-penangguhan-penahanan-</link>
						                <description>UPM Millenium, Jember - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya mendatangi Polres Jember untuk melakukan permohonan penangguhan penahanan terhadap aktivis yang ditangkap pasca aksi 30 Agustus 2025 lalu.Fahril, aktivis yang dijadikan tersangka pasca aksi demonstrasi tersebut dijerat dengan pasal 160 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penghasutan."Kita memasukkan dokumen permohonan penangguhan penahanan yang tujuannya memang harapannya adalah ada pengalihan penahanan. Dari awalnya tahanan rutan menjadi tahanan di luar rutan, tahanan kota ataupun tahanan rumah," kata Fahmi Ardiyanto, pengacara LBH SurabayaIa mengungkapkan bahwa diajukan permohonan tersebut lantaran tersangka dianggap koperatif selama proses penahanan berlangsung dan ada jaminan dari kedua orang tuanya untuk tidak mengulangi perbuatannya."Fahril ini adalah anak tunggal dan selama ini dia yang membersamai orang tuanya. Ibunya sendirian sedangkan ayahnya bekerja di luar kota, sehingga hal inilah yang menjadi pertimbangan kami kenapa penangguhan penahanan itu kami ajukan," ujar Fahmi.Dalam keterangannya, Fahmi turut menyayangkan terkait dengan penangkapan Fahril yang dianggap tidak sesuai prosedur seperti tertuang dalam Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 21/PUU-XII/2014. Putusan tersebut dalam pertimbangannya mengungkapkan bahwa ketika penyidik menetapkan seorang sebagai tersangka, disertai dengan bukti permulaan yang cukup, yaitu dengan dua alat bukti dan harus disertai dengan adanya pemeriksaan calon tersangka."Fahril selama ini tidak pernah diperiksa sebagai calon tersangka, tiba-tiba dia ditetapkan sebagai tersangka dan tidak tahu terkait dengan kasus apa. Jadi langsung dijemput di rumahnya, dibawa dan diperiksa langsung di Polres Jember," kata Fahmi.Selain itu, Fahmi juga menyebutkan bahwa tidak adanya surat penyitaan terhadap barang-barang Fahril saat proses penangkapan berupa HP serta pakaian yang digunakan saat melakukan aksi demonstrasi.Selain Fahril, terdapat tiga orang yang dijadikan tersangka oleh Polres Jember terkait dengan dugaan pengrusakan barang yang dilakukan secara bersama-sama seperti yang tertuang dalam pasal 170 KUHP.</description>
					                </item><item>
						                <title>Lima Tahun Pendudukan: Momentum Refleksi Satu Abad Perjuangan Petani Pakel</title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/lima-tahun-pendudukan-momentum-refleksi-satu-abad-perjuangan-petani-pakel</link>
						                <description></description>
					                </item><item>
						                <title>Mahasiswa Gelar Aksi Demo Desak Pimpinan Kampus Realisasikan Tuntutan</title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/mahasiswa-gelar-aksi-demo-desak-pimpinan-kampus-realisasikan-tuntutan</link>
						                <description>UPM MILLENIUM, Jember– Mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember) kembali turun ke jalan kampus menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat Rabu (24/9/25). Aksi ini merupakan tindak lanjut dari keresahan mahasiswa atas belum terealisasinya sejumlah kesepakatan antara mahasiswa dan pimpinan universitas pada audiensi tahun lalu yang tertuang dalam surat nomor 5986/Un.22/PP.009/9/2024.Pantauan di lapangan menunjukkan, massa aksi mulai berkumpul sejak pukul 10.00 WIB. Mereka datang dari berbagai fakultas dengan mengenakan baju hitam, membawa poster, dan spanduk. Sepanjang aksi, mahasiswa bergantian berorasi menyampaikan keresahan, mulai dari fasilitas kampus yang tidak memadai hingga pelayanan akademik yang dianggap semakin rumit.Adapun tuntutan mahasiswa dalam aksi kali ini meliputi:Mendesak pimpinan UIN KHAS Jember untuk segera merealisasikan hasil kesepakatan audiensi tahun 2024 (No. 5986/Un.22/PP.009/9/2024).Mendesak pimpinan UIN KHAS Jember untuk melakukan pengadaan dan pembenahan fasilitas di seluruh kawasan kampus, meliputi renovasi fasilitas umum penunjang kegiatan kemahasiswaan, pengadaan dan penempatan akses yang layak bagi mahasiswa disabilitas, serta pengadaan dan pemeliharaan laboratorium di setiap fakultas sebagai penunjang kegiatan praktikum mahasiswa.Mendesak perbaikan menyeluruh terhadap seluruh pelayanan akademik agar lebih cepat, transparan, dan ramah mahasiswa.Mendesak pimpinan universitas untuk mencabut SK (No. 607 Tahun 2024) tentang program ma’had bagi penerima beasiswa KIPK.Mencabut Surat Edaran Nomor 1216/Un.22/WR.1/PP.00.9/3/2025.Mendesak pimpinan universitas untuk melakukan transparansi seluruh anggaran.Aksi ini dilakukan secara damai, dengan tujuan agar suara mahasiswa benar-benar didengar. Aksi berlangsung hingga siang hari dan mendapat pengawalan dari satuan pengamanan kampus. Beberapa dosen dan aparat kampus juga terlihat hadir untuk memantau jalannya demonstrasi.Mahasiswa menyampaikan bahwa mereka akan terus mengawal proses ini dan meminta diikutsertakan ketika ada tindak lanjut. Pihak kampus sudah menandatangani surat pernyataan aspirasi dari mahasiswa. Namun, mahasiswa berharap pimpinan universitas segera membuka ruang dialog kembali dan memenuhi tuntutan yang telah disampaikan.Penulis: Tisya Dwi NurainiReporter: Natasya Aulia, Tisya Dwi</description>
					                </item><item>
						                <title>Gudang Elektronik Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Terbakar, Diduga Korsleting</title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/gudang-elektronik-fakultas-syariah-uin-khas-jember-terbakar-diduga-korsleting</link>
						                <description>UPM MILLENIUM, Jember – Selasa (2/9/25) Gudang elektronik di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember terbakar pada Selasa malam sekitar pukul 19.30 WIB. Kebakaran diduga akibat korsleting listrik. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun seluruh isi gudang hangus terbakar.Saksi mata, Angga, menyebut bau kabel terbakar sudah tercium sekitar pukul 19.40. Beberapa satpam, staf kampus, dan mahasiswa bahu membahu berusaha memadamkan api dengan hydrant, selang air, dan ember namun tidak berhasil. Kemudian memutuskan untuk menghubungi petugas pemadam kebakaran. Api baru bisa dipadamkan setelah tim pemadam kebakaran tiba.Komandan Regu, Samsul mengatakan pihaknya dihubungi sekitar pukul 19.00 lebih. Lima anggota diterjunkan dan tiba tidak sampai 10 menit kemudian. “Proses pemadaman berlangsung diperkirakan tadi sekitar 15 menit. Rata-rata kerusakannya sudah fatal karena barang-barangnya sudah gak ada semua gak ada yang bisa diselamatkan,” ujarnya.Barang-barang yang terbakar meliputi kabel, genset, peralatan elektronik, dan kertas. Api diduga berasal dari korsleting listrik di sisi timur gudang. Saksi lain menyebut bau terbakar juga tercium dari arah Masjid Sunan Ampel setelah melakukan salat Isya.Pihak Fakultas Syariah menolak memberikan tanggapan lebih lanjut. Dekan menyebut gudang termasuk area umum, bukan ranah fakultas, sehingga tidak perlu diekspos lebih jauh.Reporter: Natasya Aulia, Abdul Hakim</description>
					                </item><item>
						                <title>Ketika Eksistensi Lebih Penting dari Substansi</title>
						                <link>https://upm-millenium.com/berita/detail/ketika-eksistensi-lebih-penting-dari-substansi</link>
						                <description>Meskipun
kini kita memasuki bulan kemerdekaan, rasa-rasanya yang merdeka hanyalah
pejabat-pejabatnya saja, rakyat dibiarkan—atau mungkin sengaja dipelihara untuk
tetap—sengsara. Hal ini memicu kemarahan dari berbagai kelompok masyarakat yang
berujung pada aksi demonstasi, Sayangnya, aparat penegak hukum melakukan upaya
represi terhadap mereka yang melakukan demonstrasi bahkan hingga memicu
terjadinya tragedi. Tragedi yang tidak akan pernah dilupakan oleh orang tua
Alm. Affan Kurniawan. Solidaritas
terhadap meninggalnya pengemudi ojol tersebut terus berdatangan. Berbagai aksi
kemudian dilakukan menyusul tragedi itu, Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja,
Medan, dan berbagai kota lain di Indonesia menjadi saksinya. Jember, yang
menjadi pusat pendidikan di wilayah Tapal Kuda tak ketinggalan, Jum’at malam
dilakukan upaya konsolidasi oleh tiga kelompok besar, Solidaritas Jember,
Cipayung dan Aliansi BEM se-Jember.Keesokan
harinya, massa dari ketiga kelompok besar itupun melakukan long march dari
double way Universitas Jember menuju bundaran DPRD. Tak berselang lama, mungkin
hanya 20 menit, mereka langsung beranjak menuju Kantor Polres Jember dan
memfokuskan aksinya di sana. Berbagai orasi, puisi, poster hingga teatrikal
mereka pertontonkan sebagai bentuk protes terhadap apa yang terjadi pada negeri
ini.Terdapat
lima tuntutan dari massa yang menamakan diri mereka aliansi Amarah Masyarakat
Jember tersebut, yaitu membebaskan seluruh massa aksi yang ditahan, usut tuntas
dan Adili seluruh aparat pembunuh dari aktor lapangan hingga otak pemberi
perintahnya, evaluasi instansi polri secara menyeluruh, mencopot Kapolri Listyo
Sigit karena telah gagal mengubah wajah represif kepolisian, dan Presiden dan
DPR harus segera mengevaluasi segala kebijakan yang tidak berpihak kepada
kesejahteraan rakyat.Berdasarkan
lima tuntutan tersebut, Kapolres Jember Bobby Anugrah Christianto menandatangi
tuntutan massa aksi, kecuali pada poin keempat. Ia berlasan bahwa yang
berwenang untuk mencopot Kapolri dari jabatannya adalah Presiden. Hal ini
memicu berbagai kemarahan dari beberapa massa aksi meskipun dapat diredam.Memang
benar bahwa aksi kali ini lebih seragam karena massa kompak berpakaian serba
hitam sambil menggunakan pita. Namun ada satu hal yang mengganjal di pikiran,
seberapa penting untuk membawa bendera-bendera organisasi dalam aksi
demonstrasi? Bahkan bendera yang dikibarkan ada yang besar ukurannya sampai
mengganggu pandangan. Tidak hanya bendera, berbagai simbol-simbol milik
masing-masing organisasi turut dibawa. Pada saat melakukan orasi pun mereka
menggonakan slogan organisasi masing-masing.Tanpa
bermaksud mengaburkan makna dari isi aksi itu sendiri, tetapi bukankah jauh
lebih penting untuk kita memperjuangkan substansi yang dituntut kepada pemangku
kepentingan ketimbang mengibarkan bendera organisasi. Kalaupun ingin membawa
bendera atau simbol-simbol lainnya, maka gunakanlah simbol-simbol pemersatu di
antara massa aksi atau simbol perlawanan. Banyak di antara massa yang sudah melakukannya,
membawa poster berisi kritik, mengibarkan bendera Indonesia atau One Piece, dan
lain sebagainya. Sayang seribu sayang, jumlahnya tidak sebanyak dengan mereka
yang membawa atribut organisasi.Kehadiran
tersebut seakan-akan memberikan kesan bahwa organisasi mereka
peduli dengan rakyat dan kritis terhadap kebijakan pemerintah. Bahwa yang sedang melakukan aksi tersebut dari kelompok mereka dan masyarakat-masyarakat lain tanpa “berbendera” apatis terhadap fenomena-fenomena terbaru yang dianggap tidak pro rakyat tersebut. Namun, bagi saya
ini adalah pemuasan terhadap haus akan eksistensi. Mereka
lebih mementingkan eksistensi pribadi dan organisasi ketimbang substansi aksi.
Yang terjadi adalah terbentuknya kesan eksklusifitas. Masyarakat sipil lain
yang mungkin memiliki keresahan yang sama enggan untuk berpartisipasi karena
merasa tidak dilibatkan di dalamnya. Padahal jika kita menilik kembali,
merekalah yang paling terdampak terhadap kebijakan-kebijakan tersebut ketimbang
para mahasiswa “abang-abangan” organisasi.

















Harus diakui, bahwa
saya memang hanya beberapa kali mengikuti aksi--itupun hanya mewartakannya saja--bukan
yang gagah berdiri sambil memegang mikrofon di atas mobil komando. Maaf jika
kesannnya menggurui, tetapi saya juga memiliki hak untuk mengutarakan pendapat
dan juga bagian dari kelompok masyarakat. Mari kita bersatu untuk menyuarakan
apa yang memang dirasa salah, bukan hanya menjadi ajang pamer dan pemenuhan
eksistensi semata. Hilangkan sikap esklusifitas itu dan kibarkan
atribut-atribut perlawanan!!!Peulis: Muzammil (Kontributor)</description>
					                </item></channel>
  	</rss>