Air Mata Papua yang Digerus Kebijakan

$rows[judul] Keterangan Gambar : Dibuat Artificial Intelligence

Di jantung zamrud khatulistiwa,

Terhampar elok Raja Ampat, surga Indonesia .

Terumbu karang bernyanyi, ikan menari,

Biru laut memeluk, damai berseri.

Lama sudah ia menjaga rahasia,

Dari tangan serakah, nafsu para durjana


Namun kini, dengarlah jeritan pilu,

Bukan ombak menderu, bukan angin mengelu.

Tapi rintihan para purba, dari dasar samudra,

Saat terumbu karang hancur, digerus roda.

Bukan badai alam, bukan murka dewa,

Tapi tinta kertas, dari meja para kuasa.


Kebijakan hadir, berbungkus janji manis,

Pembangunan katanya, tuk rakyat yang meringis.

Namun mata batin kami, tak bisa buta,

Lihat alat berat mencabik cabik, membuang makna.

Di mana hutan bakau, pelukan pesisir?

Tinggal puing-puing, di bibir yang getir.


Air mata Papua, jatuh membasahi,

Setiap karang retak, setiap ikan mati.

Setiap pohon tumbang, setiap burung pergi,

Mengadu pada langit, tentang hati yang perih.

Tanah leluhur terancam, adat pun terpecah,

Demi kilau sebuah logam, dan angka-angka serakah.


Oh, penguasa negeri, dengarkanlah kami bersuara,

Bukan emas dan harta yang kami pinta,

Akan tetapi, lestarinya surga yang tersisa,

Agar anak cucu nanti, kelak bisa bercerita

Tentang Raja Ampat, yang pernah ada,

Sebelum air mata Papua, digerus kebijakan.

Penulis: Ahmad Zaini/UPM Millennium

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)