Keterangan Gambar : Beberapa demonstran yang kompak menggunakan pakaian serba hitam sambil membentangkan poster. Hakim/Millenium
Meskipun
kini kita memasuki bulan kemerdekaan, rasa-rasanya yang merdeka hanyalah
pejabat-pejabatnya saja, rakyat dibiarkan—atau mungkin sengaja dipelihara untuk
tetap—sengsara. Hal ini memicu kemarahan dari berbagai kelompok masyarakat yang
berujung pada aksi demonstasi, Sayangnya, aparat penegak hukum melakukan upaya
represi terhadap mereka yang melakukan demonstrasi bahkan hingga memicu
terjadinya tragedi. Tragedi yang tidak akan pernah dilupakan oleh orang tua
Alm. Affan Kurniawan.
Solidaritas
terhadap meninggalnya pengemudi ojol tersebut terus berdatangan. Berbagai aksi
kemudian dilakukan menyusul tragedi itu, Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja,
Medan, dan berbagai kota lain di Indonesia menjadi saksinya. Jember, yang
menjadi pusat pendidikan di wilayah Tapal Kuda tak ketinggalan, Jum’at malam
dilakukan upaya konsolidasi oleh tiga kelompok besar, Solidaritas Jember,
Cipayung dan Aliansi BEM se-Jember.
Keesokan
harinya, massa dari ketiga kelompok besar itupun melakukan long march dari
double way Universitas Jember menuju bundaran DPRD. Tak berselang lama, mungkin
hanya 20 menit, mereka langsung beranjak menuju Kantor Polres Jember dan
memfokuskan aksinya di sana. Berbagai orasi, puisi, poster hingga teatrikal
mereka pertontonkan sebagai bentuk protes terhadap apa yang terjadi pada negeri
ini.
Terdapat
lima tuntutan dari massa yang menamakan diri mereka aliansi Amarah Masyarakat
Jember tersebut, yaitu membebaskan seluruh massa aksi yang ditahan, usut tuntas
dan Adili seluruh aparat pembunuh dari aktor lapangan hingga otak pemberi
perintahnya, evaluasi instansi polri secara menyeluruh, mencopot Kapolri Listyo
Sigit karena telah gagal mengubah wajah represif kepolisian, dan Presiden dan
DPR harus segera mengevaluasi segala kebijakan yang tidak berpihak kepada
kesejahteraan rakyat.
Berdasarkan
lima tuntutan tersebut, Kapolres Jember Bobby Anugrah Christianto menandatangi
tuntutan massa aksi, kecuali pada poin keempat. Ia berlasan bahwa yang
berwenang untuk mencopot Kapolri dari jabatannya adalah Presiden. Hal ini
memicu berbagai kemarahan dari beberapa massa aksi meskipun dapat diredam.
Memang
benar bahwa aksi kali ini lebih seragam karena massa kompak berpakaian serba
hitam sambil menggunakan pita. Namun ada satu hal yang mengganjal di pikiran,
seberapa penting untuk membawa bendera-bendera organisasi dalam aksi
demonstrasi? Bahkan bendera yang dikibarkan ada yang besar ukurannya sampai
mengganggu pandangan. Tidak hanya bendera, berbagai simbol-simbol milik
masing-masing organisasi turut dibawa. Pada saat melakukan orasi pun mereka
menggonakan slogan organisasi masing-masing.
Tanpa
bermaksud mengaburkan makna dari isi aksi itu sendiri, tetapi bukankah jauh
lebih penting untuk kita memperjuangkan substansi yang dituntut kepada pemangku
kepentingan ketimbang mengibarkan bendera organisasi. Kalaupun ingin membawa
bendera atau simbol-simbol lainnya, maka gunakanlah simbol-simbol pemersatu di
antara massa aksi atau simbol perlawanan. Banyak di antara massa yang sudah melakukannya,
membawa poster berisi kritik, mengibarkan bendera Indonesia atau One Piece, dan
lain sebagainya. Sayang seribu sayang, jumlahnya tidak sebanyak dengan mereka
yang membawa atribut organisasi.
Kehadiran tersebut seakan-akan memberikan kesan bahwa organisasi mereka peduli dengan rakyat dan kritis terhadap kebijakan pemerintah. Bahwa yang sedang melakukan aksi tersebut dari kelompok mereka dan masyarakat-masyarakat lain tanpa “berbendera” apatis terhadap fenomena-fenomena terbaru yang dianggap tidak pro rakyat tersebut. Namun, bagi saya ini adalah pemuasan terhadap haus akan eksistensi.
Mereka
lebih mementingkan eksistensi pribadi dan organisasi ketimbang substansi aksi.
Yang terjadi adalah terbentuknya kesan eksklusifitas. Masyarakat sipil lain
yang mungkin memiliki keresahan yang sama enggan untuk berpartisipasi karena
merasa tidak dilibatkan di dalamnya. Padahal jika kita menilik kembali,
merekalah yang paling terdampak terhadap kebijakan-kebijakan tersebut ketimbang
para mahasiswa “abang-abangan” organisasi.
Harus diakui, bahwa
saya memang hanya beberapa kali mengikuti aksi--itupun hanya mewartakannya saja--bukan
yang gagah berdiri sambil memegang mikrofon di atas mobil komando. Maaf jika
kesannnya menggurui, tetapi saya juga memiliki hak untuk mengutarakan pendapat
dan juga bagian dari kelompok masyarakat. Mari kita bersatu untuk menyuarakan
apa yang memang dirasa salah, bukan hanya menjadi ajang pamer dan pemenuhan
eksistensi semata. Hilangkan sikap esklusifitas itu dan kibarkan
atribut-atribut perlawanan!!!
Peulis: Muzammil (Kontributor)
Tulis Komentar