Perempuan di Titik Nol: Tonggak Perlawanan Atas Budaya Patriarki

$rows[judul] Keterangan Gambar : Buku Perempuan di Titik Nol | Foto: Jeyjingga.com

Judul : Perempuah di Titik Nol

Penulis : Nawal El Saadawi

Penerbit         : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Halaman     : xxiv + 176 hlm

“Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan. Ketika saya membunuh. Saya lakukan hal dengan kebenaran bukan dengan pisau. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka. Kebenaran yang menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar.”

Budaya patriarki yang menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi masih menjadi momok yang begitu menakutkan bagi kaum perempuan. Budaya tersebut menempatkan perempuan berada pada struktur paling bawah di dalam masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan eksploitasi terhadap kaum perempuan, minimnya ruang aman bagi perempuan dan banyak ditemukan kasus pelecehan seksual di ruang publik.

Salah satu novel yang begitu relate, dapat menampar perasaan kita terhadap kejamnya budaya patriarki serta menggelorakan semangat untuk menuntut hak-hak kaum perempuan yang selama ini terbelenggu adalah novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Saadawi, salah seorang dokter, penulis sekaligus feminis berkebangsaan Mesir. 

Novel ini merupakan kisah nyata dari salah seorang perempuan bernama Firdaus Mesir yang pernah ditemui oleh Nawal El Saadawi saat berada di penjara. Ia berada di penjara sedang menunggu gilirannya untuk dieksekusi hukuman mati lantaran telah membunuh seorang mucikari. Ia menceritakan perjalanannya secara lengkap kepada Saadawi, mulai dari pelecehan seksual yang dialaminya sejak masa kecilnya di desa, menjadi pelacur kelas atas, hingga membunuh seseorang yang merasa terancam dengan bisnisnya

Kehidupan yang dilalui oleh Firdaus sudah hancur sejak masa kanak-kanak. Bagaimana tidak, ia disetubuhi oleh teman masa kecilnya dan juga pamannya sendiri. Firdaus juga diperlakukan secara tidak manusiawi oleh keluarganya dengan disuruh untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, jarang diberi makan serta tidak mendapatkan tempat beristirahat yang layak. Seorang ayah yang seharusnya menjadi pelindung dan pembawa ketentraman bagi keluarganya justru berlagak bak raja yang setiap hari harus dilayani secara spesial.

 “Saya bukan pelacur. Tapi sejak semula, ayah, paman, suami saya, mereka semua mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai seorang pelacur.”

Sebagai seorang yang lebih menyukai novel romantis dengan happy ending, kesan pertama penulis terhadap novel ini sangat luar biasa. Setiap kata, kalimat, halaman, dan bab terasa begitu cepat terbaca akibat rasa penasaran akan kelanjutan cerita yang terus melanda. Meskipun memiliki cover yang kurang menarik dipandang oleh mata, tetapi seketika hilang akibat lukisan pena Nawal El Saadawi yang mengguncangkan perasaan dan pikiran kita. 

Pembaca akan dibawa ke sebuah perasaan campur aduk dengan perjalanan terjal sang tokoh utama dalam menghadapi problematika kehidupan yang dilaluinya. Cara bercerita dalam novel ini yang lebih menekankan pada monolog seorang tokoh utama serta pergantian konflik yang begitu cepat berganti akan memberikan kesan dan makna tersendiri yang begitu mendalam bagi orang yang membacanya.

Dari perjalanan Firdaus, dapat diambil hikmah bahwa sebagai seorang perempuan tidak hanya harus pasrah dan menerima nasib yang dialami saja, tetapi harus kuat dan bangkit melawan diskriminasi yang dialaminya. “Saya mengatakan yang sebenarnya. Dan kebenaran itu adalah liar dan berbahaya.” Tulisan Nawal El Saadawi ini adalah tulisan yang begitu ironi bahwa di negara yang cukup agamis, kemuliaan wanita seakan tidak ada harganya sama sekali. Nyatanya budaya patriarki masih merajalela dengan bertamengkan agama demi keuntungan laki-laki semata. 

Karya El Saadawi seharusnya sudah mampu menampar kita para pembaca untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang masih terbelenggu tirani patriarki. Kita harus percaya bahwa dunia ini diciptakan bukan hanya untuk kaum laki-laki saja, tetapi juga untuk perempuan. Namun, orasi tanpa aksi hanyalah sebuah basa-basi. Oleh karena itu, mulailah dari diri kita sendiri, jangan lakukan tindakan diskriminasi, apalagi menggunakan cara-cara yang hina dan keji. Terima kasih Nawal El Saadawi atas karyanya. Semoga dengan adanya buku ini dapat menginspirasi perempuan di luar sana untuk menjadi tangguh dan mau bersuara atas ketidakadilan yang telah menimpa. 

Penulis : Muzemmil Ubaidillah


Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)