Kalimat "laki-laki tidak bercerita" kini tengah viral di sosial media. bahkan kalimat tersebut menjadi trend konten para laki-laki terutama gen z. Bagaimana tidak, laki-laki tidak bercerita kini seolah menjadi standar maskulinitas. Namun apakah benar bahwa pria yang tidak bercerita adalah cerminan kekuatan? atau justru menjadi beban diam yang perlahan-lahan menghancurkan mereka dari dalam. Nyatanya kebisuan yang menormalisasikan itu tidak hanya sebatas konten sosial media tetapi bisa sampai mengancam jiwa.
Sudah lama kita hidup dalam budaya yang menganggap wajar laki-laki tidak bercerita tentang perasaan mereka. Karena selama ini laki-laki dianggap harus selalu kuat dan tangguh dibandingkan wanita. Bahkan kebanyakan laki-laki menganggap bahwa dengan bercerita mereka akan terlihat lemah. Padahal kenyataannya laki-laki maupun wanita juga butuh bercerita sebagai bentuk ekspresi dari perasaan mereka.
Pada kenyataanya, laki-laki lebih banyak memilih diam dan berpikir sendiri daripada bercerita. "Laki-laki tidak bercerita, tapi berpikir ditemani rokok ditangannya dan segelas kopi di hadapannya", ujar para laki-laki di story sosial medianya. Mungkin dengan berpikir akan menuntun kita memiliki pandangan yang jernih. Tapi terkadang kita juga tidak bisa memaksakan hal yang diluar kapasitas pikiran kita. Emosi yang terpendam tanpa bercerita mampu menciptakan resiko serius terhadap kesehatan mental. Jika dipaksakan akan membuat kita stres bahkan sampai depresi.
Stigma yang berkaitan dengan berbagi emosi masih terhalang bagi laki-laki. Sebagian besar laki-laki menganggap bahwa berbagi perasaan dapat membuat mereka terlihat lemah atau kurang maskulin. Laki-laki pada umumnya cenderung harus terlihat kuat di hadapan keluarganya, ingin bercerita pada teman tapi seringkali mendapat respon ejekan atau bahkan bullyan. Stigma ini menciptakan lingkungan dimana laki-laki ditekan untuk mempertahankan citra kuatnya. Padahal sebenarnya laki-laki juga butuh dukungan emosional dari sekitarnya.
Sebuah studi menunjukkan bahwa tekanan sosial untuk menjadi "pria sejati" membuat laki-laki cenderung mengabaikan masalah emosional mereka, sehingga bagai rentan terhadap depresi, kecemasan, hingga tindakan esktrem seperti bunuh diri. Data dari organisasi kesehatan global bahkan mengungkapkan bahwa angka bunuh diri pada laki-laki secara konsisten lebih tinggi dibandingkan perempuan di banyak negara, termasuk Indonesia. Menurut data kepolisian RI sejak januari hingga agustus 2024, sebanyak 714 laki-laki melakukan bunuh diri.
Normalisasi laki-laki tidak bercerita juga berdampak buruk pada hubungan sosial dan cenderung rentan mengalami konflik internal yang memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Budaya ini juga berpotensi menciptakan laki-laki yang patriarki, kasar dan tempramental saat emosi mereka tidak lagi terbendung. Memendam perasaan dalam waku lama hanya akan menjadi bom waktu dalam diri laki-laki. Ketika tidak ada cara lagi meredakan beban, banyak diantara mereka berputus asa dan memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Seperti tragedi yang terjadi beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa Universitas Jember mengakhiri hidup dengan terjun dari lantai 8. Menurut kesaksian teman-temannya, korban adalah sosok yang tertutup, tidak banyak bicara dan jarang bergaul. Menurut cerita yang beredar, mahasiswa tersebut mengalami depresi karena tekanan dari kampus dan tidak memiliki teman bercerita.
Laki-laki tidak bercerita? kenapa tidak, laki-laki seharusnya juga boleh bercerita. Itulah mengapa kita perlu mengubah stereotip maskulinitas dengan menciptakan lingkungan dimana laki-laki merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Sudah saatnya kita menormalisasi laki-laki bercerita karena mereka juga makhluk yang memiliki perasaan. Terlebih kita berada di era gen z yang sehari-hari butuh sekedar teman ngobrol atau biasa disebut "someone to talk" untuk tetap enjoy menjalani hidup.
Setiap individu perlu tempat bercerita untuk menemukan asa atau sekedar berbagi rasa. Keluargalah yang seharusnya menjadi tempat bercerita dan support system utama. jika tidak, kita bisa bercerita pada teman, pasangan, guru maupun konsultasi dengan psikolog. Jangan pernah berputus asa karena merasa hidup kita yang paling berat, karena tidak ada satupun masalah di dunia yang tidak ada jalan keluarnya dan mengakhiri hidup bukanlah akhir dari penyelesaian masalah.
Penulis: Najla Aurakasih Almadina
Tulis Komentar