Aksi Tunggal Mahasiswa Menyuarakan Kebobrokan Kampus, Pihak Kampus Dinilai Abai

$rows[judul]

Jember, 13 Juni 2024 - Suara kritis seorang mahasiswa bernama Mohamad Imran Hamzah dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Jember menggema di lingkungan kampus hari ini. Secara mandiri, dia melakukan aksi tunggal untuk menyuarakan keresahannya atas berbagai kebobrokan yang terjadi di almamaternya. Aksi ini murni dilakukan atas kapasitasnya sebagai mahasiswa, bukan atas nama lembaga kemahasiswaan mana pun.

Dalam orasinya yang membakar semangat, Imran mengungkapkan sejumlah permasalahan krusial yang telah lama dihadapi mahasiswa UIN Jember namun tak kunjung terselesaikan. Pertama, terkait fasilitas kampus yang sangat memprihatinkan. Proyektor, LCD, dan remote absen di banyak ruang kelas, sementara ruangan kuliah terasa seperti oven karena minimnya ventilasi udara.  

"Bayangkan saja, mahasiswa harus mengerahkan seluruh konsentrasinya di tengah ruangan yang panas dan pengap seperti itu. Bagaimana mereka bisa berpikir jernih dan mengikuti perkuliahan dengan baik?" tutur Imran dengan nada mencela.

Kedua, permasalahan dosen yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Imran menyebut ini sebagai "momok" yang selalu menghantui mahasiswa selama perkuliahan. "Tak jarang kami mendapati dosen yang seharusnya mengampu mata kuliah A, tetapi malah ditugaskan untuk mengampu mata kuliah B yang bukan bidang keahliannya. Tentu saja ini sangat merugikan kami sebagai mahasiswa," cetusnya.

Ketiga, permasalahan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) angkatan 2023 yang hingga saat ini belum selesai diproses. Padahal, menurut Imran, hal sesederhana ini seharusnya dapat diselesaikan dengan cepat mengingat KTM merupakan identitas penting bagi mahasiswa. "Bagaimana kami bisa mengakses layanan kampus dengan baik jika identitas kami saja tidak diurus dengan semestinya?" tanyanya dengan nada sinis.

Keempat, pelayanan akademik yang buruk, seperti dosen pembimbing yang sulit ditemui, judul skripsi yang selalu ditolak tanpa alasan jelas, dan permasalahan lain yang disampaikan mahasiswa kepadanya. "Saya sendiri kerap mendapat keluhan dari mahasiswa terkait sulitnya berkomunikasi dengan dosen pembimbing. Ini tentu menghambat proses penyelesaian tugas akhir mereka," ungkapnya.

Kelima, kondisi Masjid Belakang yang hanya menjadi pajangan semata karena tidak tersedianya air bersih dan fasilitas yang memadai. Imran mengungkapkan keprihatinannya melihat kondisi masjid yang seharusnya menjadi pusat kegiatan spiritual dan intelektual di kampus. "Bagaimana kampus kita akan maju kalau semisal hal-hal sederhana seperti penyediaan air di masjid saja tidak dapat dipenuhi? Bagaimana mahasiswa dapat berintelektual dan berdialektika jika fasilitas penunjangnya tidak layak?" tukasnya dengan nada menggebu.

Melalui aksinya ini, Imran berharap suara mahasiswa dapat didengar dan meningkatkan semangat serta sikap kritis rekan-rekannya untuk tidak diam menghadapi kecacatan yang terjadi di kampus. Namun, yang memrihatinkan, pihak pimpinan kampus tidak memberikan respons apa pun terhadap aksi tunggal tersebut.

"Mereka hanya berkeliaran seperti tak terjadi apa-apa. Bahkan, saat saya menanyakan keberadaan Rektor kepada petugas satpam, dia justru menjawab bahwa Rektor sedang menguji skripsi. Bisa dibayangkan bagaimana sikap acuh tak acuh mereka terhadap aspirasi mahasiswa," ungkap Imran dengan nada mengecam.

Aksi tunggal Imran ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi pihak kampus untuk segera menindaklanjuti berbagai permasalahan yang disampaikan dan memenuhi hak-hak mahasiswa agar dapat belajar dengan nyaman dan kondusif. Kampus tentu diharapkan dapat lebih responsif dan terbuka dalam menyikapi kritik yang disampaikan mahasiswa demi kemajuan institusi itu sendiri.

Reporter: M. Faizal Pratama

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)