Keterangan Gambar : Diskusi membahas beberapa cerita kelam pada orde baru (Amirul Mu’minin/UPM Millenium)
UPM Millenium, Jember – Diskusi untuk memperingati tragedi mengenai beberapa aksi pada masa orde baru. Dengan diawali menonton film bersama yang menampilkan peristiwa tersebut. Diskusi ini dilakukan pada Rabu (21/5/25) bertepatan dengan 27 tahun berakhirnya masa jabatan Presiden ke dua Indonesia yaitu Soeharto. Kegiatan menonton dan diskusi ini bertempat di museum huruf Jember pada jam 18.00, dengan mengundang beberapa saksi hidup sebagai pemantik yang merasakan kejamnya di masa itu.
Kegiatan ini bersifat
umum yang dihadiri oleh beberapa kalangan yang berbeda, seperti mahasiswa
jember, masyarakat sekitar, dan pelaku sejarah pada era Soeharto. Hal ini bertujuan
untuk merawat ingatan terhadap
kejadian
masa lalu pada tahun 1998, dan mengingat pentingnya peristiwa tersebut. Meskipun terasa
tampak jauh, padahal jika
dikaji lebih dalam sebenarnya
lebih dekat. Tidak berhenti di situ,
kegiatan ini memiliki beberapa agenda seperti aksi kamisan pada kamis 22 Mei
2025 dan malam pemberontakan.
“Kita berjumpa lagi besok
di aksi kamisan pukul empat sore di depan DPRD ya teman teman. Dan sebagai
akhir, kita akan melakukan aksi senang senang dengan judul malam pemberontakan”
ucap pembawa acara pada penutupan diskusi.
Pembahasan ini melingkupi
masalah negara Indonesia yang masih jauh dari tempat tujuan. Dengan lebih
menekankan pelanggaran HAM berat yang terjadi pada masa Soeharto. Orde baru
belum juga berakhir dengan aktor-aktornya yang masih eksis di pemerintahan.
Tidak ada tindakan yang tegas bagi para pelaku pelanggaran HAM saat ini.
Diskusi ini dihadiri pemantik perempuan yang diapresiasi oleh peserta. Karena, ini
sebagai interpretasi
bahwa perempuan mampu dan berdaya membicarakan isu sosial. Banyak perempuan saat ini yang tidak berani
mengungkapkan hal-hal
itu kecuali dalam ranah domestik.
Hadirnya pemantik dan peserta perempuan ini membuktikan serta mematahkan stigma
bahwa perempuan tidak berani bersuara.
“Gerakan perempuan itu
jauh berkembang sebelum Soeharto
memimpin Indonesia. Karena kalau dilihat ada namanya Kongres Perempuan, ada yang namanya organisasi
perempuan yang dimulai pada 1912.
Gerakan-gerakan
tersebut
pada masa itu sudah berbicara soal bagaimana perempuan keluar dari ranah
domestik” ujar salah satu
pembicara perempuan.
Konsep kegiatan ini
merupakan hasil kolektif dari anak kamisan tanpa membawa instansi kampus. Tidak
ada pembatasan kalangan atau kelompok tertentu dalam acara ini. Anggaran pun
tidak ada karena memang kegiatan kolektifan. Barang seperti proyektor, layar,
dan sound itu semua dari hasil kolektif.
“Sebenarnya konsepnya
selalu gini-gini aja sih karena dari ada peringatan september nobar dan
diskusi, yaudah sekarang nobar dan diskusi lagi” ucap Lila, anggota kamisan.
Sebagai bagian dari
gerakan, pembawa acara menekankan beberapa poin kepada audiens. Salah satunya yaitu mengajak para audiens untuk
melakukan introspeksi. Apakah gerakan mereka telah inklusif, apakah strategi mereka sudah tepat, dan apakah sudah benar-benar merawat simpul antar komunitas dan antar masyarakat.
Harapan dari hasil
diskusi ini meliputi penyelesaian dan keadilan terhadap pelanggaran HAM, pemerintahan yang kredibel, dan pemerintahan yang bisa diandalkan, serta gerakan yang berumur
panjang, inklusif tanpa diskriminasi.
“Selama ada negara, perlawanan harus berlanjut gitu” Pungkas salah satu pemantik dan dilanjut dengan sorakan audiens dengan kalimat “panjang umur perlawanan”.
Reporter: Amirul Mu'minin
Penulis: Amirul Mu'minin
Koreksi bahasa: Izzatus Syafiqoh
Tulis Komentar