Itu Ayahku

$rows[judul] Keterangan Gambar : flickr.com/jatmika jati



“Bu, Rangkasa pergi ke depan stasiun ya,” kata pemuda yang masih berumur sekitar 7 tahun itu

“Sudah dihabiskan belum, nak makannya?” tanya ibunya sambil teriak dari dalam dapur 

“Sudah, ibu.”

Anak kecil itu pergi berlari ke depan stasiun. Warga desa di sini jika bekerja di kota selalu menggunakan transportasi kereta. Oleh karena itu tak heran jika di desa-desa kecil seperti ini banyak stasiun, meskipun kecil-kecilan. Ayah Rangkasa termasuk orang yang ikut bekerja di kota, oleh karena itu Rangkasa selalu bersemangat menjumput ayahnya dikala fajar berganti dengan malam. 

Rangkasa duduk di kursi stasiun sendiri sambil menoleh ke kanan ke kiri dan mengayunkan kedua kakinya. Biasanya ayah Rangkasa selalu membawakannya makanan manis dari kota untuk Rangkasa bahkan sejak kecil. Jika tidak membawakan makanan manis, terkadang ayahnya membawakan buku cerita untuk pengantar tidur malam nanti

Lonceng kereta telah berbunyi Rangkasa segera berdiri takjub dan mulai mendekati batasan kereta disaat kereta sudah berhenti. Dia berdiri di depan pintu kereta sembari menunggu ayahnya yang keluar dari kereta. Satu per satu orang sudah keluar dari kereta itu, tetapi Rangkasa kebingungan tidak sama sekali melihat ayahnya. Dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kereta itu namun pundaknya di tahan oleh petugas stasiun. 

“Mau pergi kemana anak kecil?” tanya penjaga stasiun itu 

“Aku ingin mencari ayahku, biasanya dia pulang jam segini dengan kereta yang sama tapi aku tidak melihatnya keluar.” 

Petugas stasiun itu mengerutkan dahinya, “Maaf mungkin ayahmu datang dengan kereta lain karna ada kepentingan mendesak?” 

“Ah tapi tidak mungkin!” Rangkasa berjalan satu langkah ke dalam namun lagi-lagi tubuhnya di tahan oleh petugas kereta dari dalam. 

“Ada apa?” tanya petugas kereta dari dalam 

“Aku sedang mencari ayahku, biasanya dia pulang dengan kereta ini dan jam yang sama atau mungkin dia tertidur di dalam?” 

“Tidak ada, kami dari petugas sudah membangunkan para penumpang yang tertidur agar mereka tidak tertinggal alamat pemberhentian.” 

Semenjak kejadian itu Rangkasa sedih, merasa terpuruk dan merasa kesepian karna sehari hari ayahnya lah yang menemaninya, bahkan sang ibu pun ikut bingung tak karuan atas tak kembali suaminya itu. Rangkasa tak menghabiskan makanannya hanya tersisa 3 suap saja, dia tidak merasa lapar namun dipikirannya masih terlintas tentang kemana perginya sang ayah. Di tengah sunyi tiba-tiba ada suara ketukan pintu, dengan semangat Rangkasa lah yang pertama kali berjalan menuju pintu rumahnya dengan membawa harapan besar bahwa dibalik pintu itu sang ayah. 

Dibukakannya lah gagang pintu rumahnya. Rangkasa mengerutkan dahinya bingung ternyata dibalik pintu itu bukan sosok sang ayah namun sosok perempuan kecil dengan tinggi yang sama seperti Rangkasa tengah berdiri sendiri.

“Siapa kamu?” tanya Rangkasa 

“Juwita,” jawabnya dengan senyum 

“Dimana ayahku?” 

“Ayahmu?” 

“Kamu pergi kesini dengan siapa? bukan dengan ayahku?.”

Juwita menggeleng dia pergi ke rumah Rangkasa seorang diri, kata Juwita dia hendak pergi ke desa samping bersama orang-orang desanya namun hendak menunggu kereta bukannya duduk saja tapi Juwita pergi keluar stasiun alhasil dia tak tahu arah untuk kembali ke stasiun malah menemukan rumah Rangkasa. Memang aneh kata pikiran Rangkasa tapi sudahlah, ibu Rangkasa menyuruhnya masuk dan menikmati makan malam bersama. 

“Oh jadi ayah dan ibumu bekerja di luar negeri?” tanya ibu Rangkasa kepada Juwita 

Juwita mengangguk, “Di Melbourne mereka ditugaskan bekerja disana baru pindah, aku disini bersama saudaraku.” 

Rangkasa memekik terkejut mendengar ucapan Juwita, “Ayahku juga! dia rajin bekerja supaya dipindahkan ke Melbourne, supaya kami punya banyak uang.”

“Oh iya? mungkin disana ayahku dan ayahmu berteman.” 

Rangkasa menundukkan kepalanya sedih, rasanya tiap kali ada kalimat “ayah” dia benar-benar terpuruk bingung dimana ayahnya. Jika benar ayahnya pergi ke Melbourne kenapa tidak berpamitan dulu bukannya ayahnya sudah berjanji kepada Rangkasa untuk membawanya pergi kesana juga. 

Usai menikmati makan malam dua anak kecil itu beristirahat. Juwita sudah terlelap, ia sedang berkelana disana bersama sang peri mimpi sedang Rangkasa masih diam menatap langit-langit kamarnya. Jika kalian heran apakah Rangkasa selalu begitu setiap malam jawabannya adalah iya. Juwita mengubah posisi tidurnya hingga ia tak sengaja membuka kedua matanya dan melihat Rangkasa yang masih tak kunjung memejamkan matanya. 

Juwita bangun dari tidurnya, "Rangkasa kenapa belum tidur?"

Rangkasa sadar dari lamunannya, "Aku tidak akan bisa tidur, Juwita. jika tidak mendengarkan dongeng sebelumnya," Rangkasa mengubah posisinya menjadi duduk, "Biasanya ayahku yang membacakannya."

"Lalu kenapa sekarang tidak kamu suruh saja ayahmu membacakannya?"

"Tidak ada ayahku, dia tidak pulang dari 3 hari yang lalu, biasanya setiap dia pulang kerja membawakanku buku cerita lihat saja ini masih banyak yang belum dibaca," katanya sambil menunjukkan buku-buku di mejanya dengan isyarat kepala.

"Kamu baca sendiri aja."

Rangkasa menghela nafas kasar, "Aku tidak bisa membaca."

Juwita turun dari ranjangnya menuju meja yang berisikan buku-buku cerita Rangkasa, "Ya sudah biar aku bacakan."

Pagi ini mereka sedang asyik bermain, bercanda gurau bersama sambil menikmati camilan yang sudah ibu Rangkasa siapkan. Dari Rangkasa yang mengajari Juwita bermain layangan lalu bermain sepeda bersama dan melihat kereta yang tengah lewat sambil membawa harapan agar sang ayah keluar dari kereta itu sambil membawakan 2 buah buku cerita karna sudah ada Juwita disini yang menemaninya alhasil Juwita harus mendapatkan balasannya. 

“Sudah Rangkasa, aku cape kita istirahat saja,” kata Juwita dengan nafas tersengal-sengal 

“Ah payah Juwita masa begitu saja sudah cape,” ejek Rangkasa

Juwita menahan amarahnya, “Ga peduli! aku kan anak perempuan ga pernah main layangan panas-panas begini.”

Rangkasa hanya tertawa menenangkan Juwita yang sudah dikebulkan dengan emosi. Tak lama kemudian entah ide darimana Juwita mengajari Rangkasa membaca dari huruf ke huruf alfabet lainnya hingga kalimat-kalimat pendek yang sering dimengerti, kemudian juga Juwita kembali mengajarinya dengan buku cerita yang Rangkasa miliki. 

“Terima kasih Juwita,” Ucap Rangkasa senang sudah mulai lancar membaca

Juwita hanya membalas dengan senyuman.

Rangkasa duduk diam dikamarnya sambil menatap selembar kertas dan satu buah pensil di atasnya, ia ingin mengungkapkan perasaannya namun entah apa yang harus ia tulis. Jangan berpikir aneh namun memang nyatanya begitu Rangkasa tidak bisa membaca namun bisa menulis, jelas Juwita olok-olok karna Juwita sudah mengusai itu sejak ia berumur 5 tahun. 

Rangkasa melihat Juwita menaiki kasur, lalu Juwita melihat Rangkasa yang sedang menatapnya. 

“Juwita?” panggil Rangkasa 

“Ada apa?” 

“Aku rindu dengan ayahku, apa kamu juga merindukannya?” 

Juwita mengangguk sejenak, “Bahkan mereka tidak ada yang menjemputku disini,” dengan nada sedih 

Rangkasa diam sejenak, sedang Juwita memikirkan suatu hal. 

“Kata nenek aku dulu kalo kita kangen sama orang bisa tulis saja surat untuknya nanti sebelum tidur taruh di bawah bantal kita, kalau surat itu hilang maka peri mimpi sudah mengantarkannya kepada sang tujuan surat itu.”

Rangkasa tertawa terbahak-bahak hal lelucon apa yang sedang Juwita ucapkan ini apakah karna dia bisa membaca terlalu banyak dongeng yang ia baca. 

Juwita turun dari ranjangnya, “Ya sudah jika tidak percaya, aku saja yang menulis untuk ayahku,” Katanya lalu mengambil selembar kertas dan pensil milik Rangkasa.” 

“Ya sudah aku ikut.” 

untuk ayah Rangkasa 

Ayah, Rangkasa punya teman baru namanya Juwita dia yang mengajari Rangkasa membaca sedikit demi sedikit ya karna itu Rangkasa jadi bisa sedikit membaca buku cerita dari ayah namun lebih  nyaman jika ayah yang bacakan. 

Ayah Juwita juga bekerja di Melbourne apakah ayah juga disana? Berteman dengan ayah Juwita? apakah kalian akan pulang ke desa bersamaan? jujur saja Rangkasa tiap hari menanyakan ayah kepada ibu, jelas ibu selalu menangis mungkin karna rindu dengan ayah juga. Tapi Rangkasa bingung ayah, kadang ibu juga menangis sambil diam kadang juga menangis tak tahan dengan isaknya dan kadang menangis sambil berkata “ayahmu jahat Rangkasa.” tapi itu tidak benar kan ayah? ayah jahat darimananya? Ayahkan setiap hari membacakan dongeng untuk Rangkasa. oh mungkin jahat karna ayah sudah lama tidak membacakan dongeng untuk Rangkasa. baiklah 

ayah sudah tertidur malam ini kemungkinan pagi nanti ayah akan membaca suratku ini kata Juwita ada peri mimpi yang akan mengantarkannya. ayah pulang ya, sekarang juga. Rangkasa cuman berdua dengan ibu, kami semua rindu ayah.  


Pagi ini matahari sudah menampakkan sinarnya, membangunkan para pribumi dari dunia mimpi dan dengan lesu mereka harus menjalani dunia nyatanya. Ketika sinar matahari itu menusuk wajah Juwita dengan sigap Juwita bangun dari tidurnya dan melihat Rangkasa yang masih pulas melihat itu Juwita segera membangunkannya dengan kasar. Mengingat surat yang semalam mereka tuliskan pantas saja Juwita sangat bersemangat. 

Rangkasa bangun dengan lesu akibat teriakan Juwita jelas Rangkasa lupa akan surat semalam namun ketika Juwita mengingatkannya ia langsung mengambil bantalnya dan benar saja surat itu tidak ada, di bawah bantalnya kosong tak ada satu pun yang tersisa. 

“Yeayy berarti sudah ibu peri kirimkan!!” sorak Juwita bahagia 

Rangkasa tersenyum senang, “Punyamu Juwita?” 

“Oh iya sebentar,” Juwita kembali menuju kasurnya diangkatlah bantal miliknya itu dan masih ada satu surat tergeletak di bawah bantalnya itu. 

Juwita mengambil surat itu dan berjalan menuju arah Rangkasa. “Masih ada,” Katanya iba 

Rangkasa ikut terhanyut dalam suasana, membiarkan Juwita yang membuka surat itu. Juwita pagi ini ayah akan menjemputmu tunggu di stasiun ya nak bukan tak diantarkan namun ada yang lebih beruntung daripada Rangkasa. Juwita sudah mendapatkan balasan dari sang ayah isi surat itu ternyata balasan yang tengah Juwita tunggu-tunggu. Ia bersorak gembira dan mengajak Rangkasa untuk ikut dengannya jelas disisi lain Rangkasa sedikit sedih karna balasan tak kunjung datang namun disisi lain ia turut merayakan kebahagiaan Juwita.

Dua bocah itu kini sudah berada di dalam stasiun, duduk manis dengan tenang sambil menunggu kereta datang. Rangkasa menemani Juwita tanpa izin ibunya begitu pula Juwita bukan karna tidak sopan melainkan ibu Rangkasa sedang tidak ada dirumah, entah pergi kemana. Selama menunggu kereta datang mereka berdua asyik berbincang apalagi Juwita sepertinya dia banyak cerita-cerita yang diwariskan oleh neneknya mungkin lebih asyik jika Juwita lama-lama di rumah Rangkasa namun apa boleh buat ayahnya sudah menjemputnya. 

Rangkasa menyimpan harapan semoga malam ini ada surat baru di bawah bantalnya pertanda balasan dari sang ayah. Bahkan selama di perjalanan menuju stasiun tadi Rangkasa sudah menitipkan pesan kepada ayah Juwita untuk menanyakan sang ayah siapa tahu beneran berteman bukan. Juwita berdiri dengan gembira saat kereta itu sudah mulai memasuki area stasiun dan berlari menuju pintu kereta tanpa memperdulikan Rangkasa. Sadar dengan hal itu Rangkasa menyusul Juwita, sedikit sulit untuk cepat dibelakangnya karna sudah banyak segerombolan orang yang mendekati pintu kereta.

“Ayahhh!!”

Rangkasa mendengar suara teriakan Juwita, sedikit menyempil di gerombolan orang orang besar dan Rangkasa berhasil menemukan Juwita yang tengah berada di dekapan sang ayah. Jarak Rangkasa dengan mereka tidak terlalu dekat namun Rangkasa dapat melihat mereka.

“Juwita anak ayah,” kata sayang ayah sembari mengusap rambut kepala Juwita

Sedang merajut kasih sayang diantara mereka bukannya Rangkasa bahagia namun Rangkasa berumur 7 tahun itu sedang bungkam, hatinya sudah merasakan perih yang sangat perih, air matanya sudah mengumpul dalam durja matanya namun hebatnya Rangkasa masih menahannya dengan rasa tidak percaya. Namun hati siapa yang tidak sakit jika sesungguhnya Ayah yang menjanjikan untuk menjemput Juwita adalah ayah Rangkasa yang selama ini menghilang. Rangkasa mencoba memutar isi pikirannya sekarang tak lagi heran jika ibunya selalu menangis dengan perih dan sambil berkata “ayahmu jahat!” Tuhan entah mengapa ini harus menimpa Rangkasa dikala berumur 7 tahun, ia masih kebingungan tak mengerti. Bagaimana caranya hingga Juwita dan Rangkasa mempunyai ayah yang sama. 

“Itu ayahku Juwita,” Katanya dalam hati


Oleh: Aisyah Kamilatuz Zahro

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)