Gelar Demonstrasi, Aliansi Mahasiswa Anggap Kebijakan Kampus Ngibul

$rows[judul]

UPM Millenium, Jember - Mahasiswa UIN KHAS Jember yang berasal dari organisasi-organisasi mahasiswa di lima fakultas menggelar aksi demonstrasi di depan gedung rektorat, Senin, 30 September 2024 pukul 10.00 WIB. Aksi ini menuntut pihak kampus terhadap beberapa kebijakan yang dianggap ngibul oleh para mahasiswa

Aksi demonstrasi ini merupakan tindak lanjut dari gagalnya audiensi yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa dengan pihak rektorat pada Jum’at, 27 September 2024 terkait beberapa keresahan yang dialami oleh para mahasiswa terhadap kebijakan kampus.

“Pada hari jum’at sesuai dengan surat yang kita masukkan (ke pihak rektorat -red) belum ada balasan. Makanya kita hanya ditemui oleh warek 2 dan beliau mengatakan tidak mengetahui terkait dengan audiensi ini,” ungkap Muhammad Halim Ridho selaku koordinator lapangan aksi kepada Millenium.

Berdasarkan kejadian itulah, menurut pengakuan Halim yang membuat dirinya dan mahasiswa-mahasiswa lain mengadakan serangkaian konsolidasi untuk menyerap segala keresahan mahasiswa serta ditindaklanjuti dengan cara demonstrasi yang terjadi pada tanggal yang bertepatan dengan peristiwa G30SPKI itu.

Massa aksi awalnya berkumpul di parkiran Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) kemudian dilanjut berkeliling ke seluruh fakultas untuk mengajak mahasiswa-mahasiswa lain ke depan gedung rektorat. Bahkan, beberapa massa aksi memerintahkan dosen untuk mengosongkan seluruh kelas pada saat demonstrasi terjadi.

Pada pukul 10.00 WIB, massa aksi yang berjumlah sekitar 100 orang mulai memadai depan gedung rektorat dengan mengenakan pakaian serba hitam. Banyak di antara mereka yang membentangkan berbagai tulisan-tulisan berisi kritik terhadap kampus. Selain itu juga terdapat orasi-orasi oleh berbagai elemen mahasiswa yang menyampaikan keresahan-keresahan yang dialaminya.

Dalam aksi demonstrasi tersebut, massa menuntut setidaknya lima poin utama yang harus dipenuhi oleh pihak kampus, yaitu terkait dengan fasilitas yang kurang memadai bagi mahasiswa dalam menunjang kegiatan akademik maupun non akademik, pelayanan publik yang tidak sistematis, tenaga pendidik (tendik) yang seringkali dianggap mengajar tidak sesuai dengan bidangnya serta intimidasi oleh dosen terhadap mahasiswanya, transparansi dana dari LP2M serta perbaikan Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (TIPD).

“TIPD di sini masih belum melakukan apa-apa yang seharusnya mereka lakukan. Bahkan web TIPD sendiri pun tidak ada pembaruan. Artian isi webnya TIPD bukan isi tentang apa itu TIPD, tapi tentang apa itu UIN. Untuk bagian LP2M, kita menuntut transparansi dana. Artian transparansi dana seluruh kegiatan dilakukan oleh LP2M seperti KKN, RKM dan penelitian dosen,” kata Halim

 Tanggapan Rektorat Terkait Tuntutan Massa Aksi

Setelah menunggu sekitar 30 menit, massa aksi kemudian ditemui oleh Khoirul Faizin selaku warek 3 bidang kemahasiswaan yang beberapa saat kemudian disusul oleh pejabat rektorat lain, seperti Rektor, Kabiro AUPK, dan Warek 2.

Menanggapi keluhan mahasiswa menyoal kurangnya fasilitas penunjang selama kegiatan perkuliahan, Hepni selaku rektor mengakui bahwa memang fasilitas untuk saat ini bukanlah prioritas utama karena ia dan pihaknya tengah berfokus terkait dengan persoalan moderasi beragama dan APT (Akreditas Perguruan Tinggi). “APT tahun ini adalah terakhir, jadi tahun depan sudah tidak ada lagi sehingga kita kejar momentum prioritas yang jelas.”

“Saya tidak akan membangun gedung baru, tidak akan membeli tanah baru, saya fokuskan untuk perbaikan kelas. Tahun 2025 fasilitas kampus akan benar-benar terealisasi karena ada prioritas,” ungkap Hepni.

Hepni pun juga mengakui adanya problematik terkait dengan Dosen Luar Biasa (DLB) karena ketiadaan standar operasional prosedur bagi dosen luar biasa. Ia pun mengaku tengah mengupayakan adanya standar operasional prosedur untuk memastikan bahwa dosen tersebut memiliki kapasitas dan kapabilitas memberikan pengajaran terhadap mahasiswa.

Terkait dengan keluhan mahasiswa terhadap Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (TIPD), menurut Rektor memerlukan dana yang besar sehingga dilakukan secara bertahap. “Jangan hanya beli tetapi tidak dimanfaatkan. Kalau kita positif membeli peralatan yang canggih, maka pastikan betul-betul berdampak kepada prestasi mahasiswa yang semakin membaik.”

Menanggapi berbagai keresahan mahasiswa terhadap beberapa oknum dosen yang dianggap melanggar kode etik, Hepni meminta kepada mahasiswa bahwa segala keluhan dapat disampaikan secara tertulis sehingga dapat diteruskan melalui sidang kode etik dan apabila memang terbukti melanggar peraturan akan dikenakan sanksi sesuai dengan kadar pelanggaran yang dilakukan oleh dosen yang bersangkutan

Penandatanganan Pakta Integritas oleh Pihak Kampus

Setelah aksi demonstrasi berhenti sejenak untuk mendengarkan adzan dzuhur, massa pun merangsek masuk ke dalam gedung rektorat untuk dilakukannya audiensi lanjutan dengan pihak kampus. Dalam hasil audiensi lanjutan tersebut, Rektor beserta beberapa jajarannya sepakat untuk melakukan penandatanganan pakta integritas atas tuntutan-tuntutan yang dilakukan oleh para demonstran.

Dalam kesempatan tersebut, Hepni selaku rektor UIN KHAS Jember berjanji untuk menindaklanjuti hal-hal yang telah disepakati dalam pakta integritas dengan mengadakan rapat dengan pihak-pihak yang terkait. Bahkan ia mempersilahkan para mahasiswa untuk melakukan aksi kembali apabila dalam satu minggu tidak ada tindak lanjut dari pihaknya. “Kami akan membahas setiap poin tuntutan secara serius. Jika dalam satu minggu tidak ada perubahan, kami siap menerima ‘angin ribut’,”

Selain melakukan audiensi, turut berlangsung juga teatrikal yang isinya berupa sindiran kepada pihak kampus mengenai rumitnya administrasi yang ada di dalam kampus sehingga menyulitkan bagi mahasiswa serta ketiadaan fasilitas penunjang perkuliahan seperti kipas angin yang rusak maupun tidak tersedia di kelas-kelas. Aksi pun ditutup dengan membakar berbagai sampah di depan gedung rektorat dan secara perlahan massa membubarkan diri.

Adapun Khoirul Faizin selaku Wakil Rektor 3 mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para mahasiswa karena sudah melakukan upaya kontrol terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibuatnya beserta jajaran rektorat lainnya serta akan menindaklanjuti apa yang telah menjadi keresahan para mahasiswa

“Ini hal yang biasa dalam dunia kampus yang dinamis. Jangan dilarang yang begini karena ini bukti kecintaan anak-anak (mahasiswa -red) kepada kampus. Kita berterima kasih sekali sudah diingatkan, mungkin kita salah. Ini bukti riil anak-anak terhadap rasa memiliki kampus,” kata Faizin.

Pengawalan Terhadap Hasil Aksi Demonstrasi

Meskipun sudah ditandatanganinya pakta integritas oleh pihak rektorat, Alfin Maulana selaku Presiden Mahasiswa UIN KHAS Jember mengaku belum puas  karena segala tuntutan yang disampaikan belum mampu direalisasikan sehingga perlu pengawalan lebih lanjut oleh mahasiswa.

“Tujuan kita ialah mengawal seluruh tuntutan-tuntutan kita sampai terealisasi. Namun dari bapak rektor tadi sudah menandatangani pakta integritas dan diberi jangka waktu satu minggu. Apabila satu minggu ini belum terealisasi, maka kita akan datang lebih banyak. Mengajak seluruh elemen-elemen mahasiswa untuk menjemput haknya,” ujar Alfin.

Di sisi lain, Muhammad Halim Ridho selaku koordinator lapangan mengapresiasi terhadap antusiasme para mahasiswa, utamanya para perempuan yang telah meluangkan waktunya mengikuti aksi demonstrasi ini.

“Kawan-kawan sudah berkenan hadir mengikuti aksi ini berarti kawan-kawan memiliki rasa untuk merasakan kesakitan orang lain. Terutama mahasiswi UIN KHAS yang juga mengikuti kegiatan runtutan sampai selesai. Perempuan pada saat ini memang benar-benar mau melawan akan hal yang mengintimidasi,” kata mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Adab Humaniora tersebut.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)