Melawan Keterbatasan, Meraih Impian: Kisah Inspiratif Mahasiswa Disabilitas

$rows[judul] Keterangan Gambar : Muhammad Feriyanto (21), mahasiswa disabilitas UIN KHAS Jember. Muzemmil/Millenium

UPM MILLENIUM, Jember - keterbatasan fisik bukan menjadi alasan untuk menyerah dalam menggapai mimpi, hal inilah yang sesuai untuk para penyandang disabilitas, seperti Muhammad Feriyanto (21) mahasiswa prodi Hukum Keluarga dan Bagas Abdillah mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN KHAS Jember

Feri, sapaan akrab Muhammad Feriyanto yang berdomisili di Jalan Udang Windu, Lingkungan Krajan Mangli, Kecamatan Kaliwates mengidap Cerebral Palsy (kelumpuhan pada sebagian anggota tubuh) semenjak usia dua tahun. Meskipun demikian, hal ini tidak membuatnya patah semangat untuk berangkat kuliah menggunakan sepeda tiga roda miliknya setiap hari. Setiap harinya ia harus menempuh waktu sekitar 20-30 menit dari rumahnya untuk sampai ke kampus. Ia juga perlu berhati-hati selama diperjalanan karena harus menyeberangi jalan raya utama Jember yang begitu ramai, utamanya di jam-jam sibuk.

Dorongan yang kuat untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang hakim membuatnya semangat berkuliah terlebih di UIN KHAS Jember, “yang pertama karna aksesnya dekat, yang kedua bisa dipantau orang tua, yang ketiga karna impian dari dulu pengen dikampus negeri ingin mencoba tantangan yang baru juga ada temen – temen difabel lain yang kuliah dikampus negeri” 

Awalnya keinginan Feri untuk melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi ditentang oleh keluarganya. Menurut pengakuannya, ibunya ragu untuk memenuhi keinginan sang anak tersebut lantaran khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan menimpa Fery. Begitupun dengan sang kakak yang takut bahwa sang adik nantinya akan dibully oleh teman-teman di kampus. “Saya meyakinkan ibu, dari pihak sekolah dulu juga membantu.”

Pada saat pertama kali perkuliahan, yakni saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Feri mendapatkan pendampingan yang baik dan intensif dari panitia, bahkan dirinya tidak diikutkan beberapa kegiatan yang berpotensi menyulitkan dirinya. “alhamdulilah dibantu dari PK, PK nya peduli banget, kadang dibantu OC.”

Kesulitan yang dihadapi Feri saat ini adalah akses menuju kelas yang berada dibelakang serta harus naik ke lantai atas. “Kalau ke gedung G saya minta tolong untuk didorongin untuk jalan kebawahnya karena saya gak kuat, kalau gak ada orang ya saya nungguin sampai ada orang buat dimintain tolong” ujarnya. 

Untuk membantu kesulitan yang dihapadapi Feri Pihak Dema Fakultas Syariah melakukan konfirmasi ke rumahnya untuk mengikuti kelas yang berada di lantai 1 dengan syarat mengikuti kelas prodi lain. Meskipun demikian bantuan tersebut bukan berarti kesulitan Feri hilang sama sekali karena ia merasa minder karena tidak memiliki kenalan yang bisa membantunya menjangkau kelas-kelas yang susah untuk dilalui olehnya. “Pernah kemarin waktu kelas saya di C1 ikut prodi lain, saya gak punya kenalan sama sekali bingung mau minta tolong sama siapa, jamnya sudah mepet, agak nyerah dikit sihh”

Kampus seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi kalangan siapapun, maka dari itu Feri berharap UIN KHAS bisa menjadi tempat yang nyaman bagi penyandang disabilitas.. Dari segi fasilitas Feri berharap adanya jalan bidang mirip maupun adanya pegangan besi untuk menaiki tangga. “Agak susah untuk akses ke kelas, ke masjid juga ada penghalangnya yang besi itu dibawah” ujar Feri.

Selain itu, Feri juga mengusulkan untuk adanya tambahan opsi bagi penyandang disabilitas di Sistem Informasi Terpadu (SISTER) UIN KHAS Jember karena menurutnya dari awal mendaftar tidak tersedia kolom centang disabilitas. Padahal menurutnya, pada angkatan 2024, terdapat setidaknya 4 orang mahasiswa penyandang disabilitas.

Meski mendapat golongan UKT yang rendah (golongan 2), Feri berharap dirinya mendapat bantuan berupa beasiswa dari pihak kampus. “Besiswa belum dapet, masih proses pengajuan KIP” kata Fery

Mahasiswa prodi Hukum Keluarga itu juga berpesan kepada teman-teman disabilitas lainnya untuk tidak minder berkuliah di kampus negeri, berkontribusi, sama-sama memberi support dan feedback yang baik. “Cari teman yang paham kondisi kita agar bisa mensupport, menyemangati dan membantu.”

Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Bagas, mahasiswa IAT penyandang disabilitas yang tidak memiliki kaki sejak kecil membuatnya tidak gentar dengan kehidupan. Meskipun memiliki keterbatasan, ia justru tidak mau diperlakukan spesial, dia ingin diperlakukan sama dengan orang-orang lainnya.

“Maunya sih diperlakukan sama saja, disamaratakan. Waktu ujian UM-PTKIN kan sama pihak kampus disiapin kursi roda sebenarnya, tapi saya dalam batin ‘buat apa ini,’ malah gak nyaman karena selama hidup saya gak pernah pakek kayak begitu. dibawa enjoy, dibawa santai, tidak perlu dipikir terus menerus semua manusia itu kan sama” ungkapnya saat dihubungi oleh Millenium di indekosnya.

Pada saat pertama kali berkuliah di UIN KHAS Jember, mahasiswa yang bercita-cita menjadi dosen itu harus berjalan kaki dari kostnya yang ada di Jalan Jum’at ke kampus. Namun kini ia sudah bisa bernapas lega karena ada teman satu kelasnya yang bisa diajak berboncengan karena kebetulan tinggal di tempat kost yang sama.

Sebagai seorang penyandang disabilitas sejak kecil, keteguhan Bagas dapat dibuktikan pada saat PBAK. Ia berusaha selalu mengikuti rangkaian acara PBAK dari awal hingga akhir acara usai. “Pas paper mob tidak dibantu panitia karena memang saya mau sendiri, aslinya kan sudah gak dibolehin, tetapi saya maksa ikut, itung-itung cari pengalaman. Cuma pas roadshow (expo – red) kemarin saya gak dibolehin ikut, jadi saya di kesehatan,”

Mahasiswa yang juga seorang hafiz Qur’an 30 juz itu juga berpesan kepada penyandang disabilitas lain untuk tidak minder. “ kalo bisa jangan merendahkan satu sama lain, semua orang itu kan sama. Toh semua semua orang punya kelebihan masing – masing, jalanin saja,”

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)