Merawat Fikrah Gus Dur Bersama Jaringan GUSDURian

$rows[judul]

UPM Millenium, Jember – Kamis, 19 September 2024 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember yang berkolaborasi dengan Jaringan Gusdurian menyelenggarakan kegiatan Gus Dur Memorial Lecture di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) Lt. 3 yang dimulai pada pukul 08.00 WIB.

Kegiatan dengan tema “Gus Dur dan Gagasan Pribumisasi Islam” ini menghadirkan Marzuki Wahid, salah seorang murid Gus Dur yang juga Rektor Institut Studi Islam Fahmina serta Jay Akhmad selaku Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian. Selain memberikan kuliah umum terkait dengan gagasan Gus Dur, terdapat juga penandatanganan MoU dan peresmian Gus Dur Corner.

GUSDURian merupakan sebutan bagi orang-orang yang melanjutkan pemikiran dan perjuangan Abdurrahman Wajid atau yang biasa akrab disapa dengan Gus Dur. Adapun Jaringan GUSDURian adalah organisasi atau wadah bagi GUSDURian untuk berkumpul sebagai sebuah jaringan kerja gerakan yang terhubung antara satu daerah dengan daerah yang lain.

Organisasi ini dilatarbelakangi oleh rasa kehilangan yang mendalam bagi sebagian orang pasca wafatnya Gus Dur pada 30 Desember 2009 silam. Oleh karenanya, dirasa perlu untuk membentuk sebuah wadah yang berfokus memperjuangkan pemikiran serta nilai-nilai dari cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama tersebut. 

“Gus Dur memang sudah tidak ada secara fisik, tetapi nilai pemikiran dan perjuangan beliau masih terus berjalan dan ini harus ada yang melanjutkan. Apalagi banyak situasi-situasi di Indonesia yang ketika tidak ada Gus Dur tambah kacau, maka muncullah kawan-kawan kita di berbagai daerah yang ingin melanjutkan perjuangannya,” kata Jay Akhmad, selaku Koordinator Sekretarian Nasional Jaringan GUSDURian.

Kini Jaringan GUSDURian sudah tersebar ke 120 titik, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Menariknya, meskipun tersebar ke berbagai penjuru, menurut pengakuan Jay, Jaringan GUSDURian tidak memiliki tanggal pendirian yang resmi karena lahir secara organik di kalangan pecinta Gus Dur. Namun, bulan Agustus dan September dijadikan sebagai bulan yang penting lantaran bertepatan dengan Harlah Gus Dur sekaligus konsolidasi kawan-kawan Gus Dur yang ada di berbagai daerah.

Fokus utama dari jaringan yang diketuai oleh Alissa Wahid, anak sulung Gus Dur, adalah isu mengenai toleransi dan perdamaian. Akan tetapi, isu lain juga tidak luput dibahas oleh Jaringan GUSDURian, seperti demokrasi, hukum, hak asasi manusia serta lingkungan dan iklim

Adapun kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan oleh jaringan GUSDURian diantaranya adalah forum 17-an atau Forum 1 tujuan, sebuah agenda rutin bulanan yang menjadi tempat bagi kawan-kawan GUSDURian untuk mendiskusikan berbagai isu, baik skala lokal maupun nasional. Kegiatan lainnya adalah peningkatan kapasitas penggerak dengan diadakannya kelas-kelas, seperti kelas penggeran Gus Dur, kelas kepemimpinan Gus Dur, dan masih banyak lagi lainnya. 

Selain itu juga, bagi Jaringan GUSDURian yang ada di  berbagai daerah, penting untuk melakukan jaringan-jaringan kerja dengan berbagai elemen yang ada di masyarakat. Salah satunya adalah dengan diadakannya event-event terkait yang membahas sosok Presiden Indonesia keempat tersebut, seperti Gus Dur Memorial Lecture, Harlah Gus Dur, dan Haul Gus Dur

“Kerja-kerja jaringan itu tidak pernah luput dari kerjanya Jaringan GUSDURian di berbagai daerah. Karena kita untuk melakukan perubahan tidak bisa sendirian. Mandiri boleh, sendiri jangan di dalam melakukan perubahan sosial,” sambung Jay.

Gus Dur Memorial Lecture yang diselenggarakan di UIN KHAS Jember hanyalah salah satu bagian dari rangkaian Gus Dur Memorial Lecture karenanya rencananya acara ini akan diadakan di 9 kampus, yaitu UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan, IAIN Manado, STAIN Majene, IAIN Kediri, Universitas Yudharta Pasuruan, STAKATN Pontianak dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Meskipun memiliki basis massa yang kuat di berbagai daearah, Jaringan GUSDURian mengklaim bahwa mereka tidak ikut-ikut dalam hal politik praktis atau politik elektoral untuk mendukung kandidat atau calon-calon tertentu dalam kontestasi pemilu maupun pilkada yang berlangsung pada tahun ini.

“Politik GUSDURian, istilah guyonannya adalah politik tidak praktis. Politik tidak praktis artinya politik yang lebih besar atau politik kebangsaan. Kita ngomong soal pemilu dan pilkada, tetapi tidak mendukung calon tertentu. Bagaimana demokrasi ini berjalan juga mendorong kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat atau mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, itu juga bagian dari politik.

Menanggapi kondisi demokrasi yang sedang tidak baik-baik saja, Jay mengungkapkan bahwa hal ini sudah diprediksi oleh Gus Dur sebelumnya dengan mengistilahkan “demokrasi seolah-olah”. Maksud dari demokrasi seolah-olah adalah seolah-olah demokratis, padahal tidak ada praktis demokrasi di dalamnya. Hal ini terjadi ketika institusi dan konstitusi dijadikan alibi bahwa demokrasi telah terlaksana.


Reporter: Muzemmil Ubaidillahh 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)