Keterangan Gambar : Para pemeran teater "Madam Degil" | Foto: UKM Komsi
“Cinntaaa!, cinta, cinta, cinta, cinta. Apa yang sebenarnya dipikirkan orang-orang tentang cinta? Ketahuilah definisinya sangatlah kompleks, sebab ia adalah kondisi batin. Yang jelas, apa pun pengertiannya ketika ada orang yang sakit hati, kecewa, remuk redam dalam menjalankan sebuah hubungan jangan salahkan cinta. Marilah kita belajar membedakan antara cinta dan nafsu. Ya, memang tipis perbedaannya, tapi setidaknya belajarlah agar jangan sampai kita terjebak dalam pengertian ambigu yang dapat menjerumuskan kita,” monolog dari pemeran Sumiyati menandai dimulainya pertunjukan teater berjudul “Nestapa Arum” pada Rabu malam (6/12).
Beberapa menit setelah pembukaan dan sepatah dua kata oleh ketua Komsi dan Dewan Kesenian Probolinggo, ruangan menjadi gelap dan hanya terdapat sedikit pencahayaan di panggung. Nampak beberapa penari mempertunjukkan kebolehannya sehingga menghasilkan sebuah gerakan yang penuh estetika. Pada saat tarian berlangsung, tiba-tiba lampu sorot panggung berubah menjadi kemerah-merahan dan bau menyan seketika menyerbak ke seluruh penjuru ruangan seakan-akan meninggalkan kesan yang mistis pada malam itu. Alat musik seperti gamelan pun mengalun sepanjang tarian kontemporer .
Tari kontemporer ini mengisahkan tentang proses atau fase seorang manusia dari kelahiran hingga sampai ke tempat persinggahan terakhirnya, baik itu di surga atau pun di neraka. Terkait dengan bau kemenyan yang tercium di dalam ruangan, Alfina Rosidah, selaku ketua umum Komsi mengungkapkan bahwa kegiatan membakar dupa merupakan bagian tradisi dari sebuah keteateran karena dianggap dapat mengangkat suasana di dalam ruangan.
Di sisi lain, ia juga tidak menampik bahwa terdapat unsur mistis di dalam tarian tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa bagian tari yang tidak ditampilkan di atas panggung dengan pertimbangan beberapa hal.
“Ada beberapa gerakan yang memang kita hapus karena memang ini terlalu berat. Jadi ada gerakan seperti menjadi pocong, kemarin juga sempat ada gesekan di antara penari dan hampir sakit selama berminggu-minggu,” kata Alfina saat dikonfirmasi oleh UPM Millenium
Setelah tarian usai, Master of Ceremony berusaha untuk mencairkan suasana yang menegangkan dan menyapa para audiens beserta dengan lembaga-lembaganya. Acara selanjutnya adalah pementasan teater yang berjudul “Nestapa Arum”, naskah karya M. Suharis yang merupakan delegasi dari komunitas teater di Dewan Kesenian Kota Probolinggo
Pertunjukan teater dibuka dengan menampilkan seorang perempuan—yang pada saat pertunjukan diketahui bahwa ia bernama Sumiyati -- dengan mengenakan kebaya warna biru dan jarik berwarna coklat. Ia bermonolog ihwal problematika cinta seperti yang tertera pada paragraf pertama tulisan ini dibuat. Suaranya yang melengking membuat mata penonton semakin tertuju padanya.
Monolog tokoh Sumiyati dalam teater "Nestapa Arum" | Foto: UKM Komsi
Pada pementasan teater tersebut mengisahkan seorang ledek (penari) populer bernama arum. Ia merupakan selir dan seorang adipati ternama pada masa itu. Arum menuntut kejelasan status hubungan romansanya, karena di sisi lain sang adipati sudah beristri dan memiliki anak. Berbagai percekcokan pun terjadi di antara keduanya. Sang ledek sudah frustasi dengan hal tersebut karena merasa sudah tidak menemukan jalan keluar. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Riuh tepuk tangan pun menggema setelah teater “Nestapa Arum” tersebut usai. Pembawaan dari pemeran teater yang menjiwai setiap adegan-adegan yang ada membuat para penonton terkesima, terbawa suasana, dan berempati terhadap kondisi yang menimpa Arum.
Keramaian penonton mendadak hening ketika lampu sorot dimatikan dan terdengar lagu yang dinyanyikan oleh crew, sebagai pertanda bahwa pertunjukan utama, yaitu teater yang berjudul “Madam Degil” akan segera dimulai.
Teater “Madam Degil mengisahkan seorang single parent yang membesarkan anaknya tanpa didampingi oleh seorang suami. Ayu—nama tokoh utama yang diceritakan dalam teater ini— membuka warung kelontong untuk mencukupi kehidupannya dan sang anak. Meskipun seorang janda, berkat parasnya yang rupawan ia banyak digandrungi oleh para laki-laki, mulai dari berandalan, pejabat, hingga konglomerat
Ayu digambarkan sebagai seorang yang memiliki sifat degil atau keras kepala karena tidak mudah terpedaya oleh rayuan laki-laki. Contoh saja saat ia berusaha untuk didekati oleh seorang pejabat bernama Doni. Ayu menolak mentah-mentah cinta dari Doni meskipun sudah mendapatkan bujuk rayu segala rupa, sebab sang pejabat sudah memiliki istri dan anak. Ia juga menolak rujuk dengan mantan suaminya yang sudah tega mengkhianati dan meninggalkan dirinya beserta sang anak.
Meskipun sudah berusaha didekati oleh banyak laki-laki, alih-alih menerima salah satunya, Ayu lebih memilih untuk hidup mandiri sambil membesarkan anaknya dan tidak menuruti nafsu semata. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang tangguh di tengah cobaan yang terus menimpanya. Ia seringkali menjadi buah bibir di antara tetangga sekitar karena sering menjumpai banyak laki-laki di rumahnya serta dituduh sebagai seorang pelakor oleh istri dari sang pejabat yang memiliki rasa kepadanya. Selain mempersembahkan sebuah drama romansa, teater “Madam Degil” juga diselipkan dengan unsur komedi di dalamnya.
Pesan atau amanat yang ingin disampaikan pada kedua pertunjukan tersebut serupa, meskipun memiliki ending yang berbeda. Kedua teater tersebut ingin menyiratkan bagaimana bahayanya apabila seorang manusia tidak dapat membedakan antara nafsu semata dengan cinta sehingga dapat menjerumuskan pada jalan yang salah, seperti yang menimpa tokoh Arum pada teater “Nestapa Arum.”. Lain halnya dengan nasib tokoh Ayu yang berakhir lebih baik, sebab ia menyadari bahwa laki-laki yang mendekatinya tidaklah dengan cinta yang tulus dan hanya sebatas nafsu.
Acara malam itu kemudian di tutup dengan bernyanyi bersama dengan seluruh crew yang terlibat dalam pementasan, baik pemeran, pemain alat musik, maupun crew di balik layar yang berperan dalam keseluruhan pementasan teater ini. Acara ditutup dengan sarasehan antara para pengurus UKM Komsi dengan penonton guna meminta kritik maupun saran atas pementasan tadi.
Alfina berharap bahwa pementasan yang dilakukan oleh anggota baru Komsi dapat lebih baik lagi untuk kedepannya dan dapat terus menjalin relasi yang lebih luas dengan komunitas-komunitas seni di daerah lain. “Sekarang kita sudah sampai Surabaya, bisa lah kita sampai Madura, Bali atau luar pulau.”
Devinda Safitri, salah satu penonton pementasan yang berasal dari Badan Otonom Atos PMII Rayon Syariah UIN KHAS Jember mengaku senang dan dapat mengambil pelajaran berharga dari pertunjukan teater yang ia lihat tadi. “Menurut saya sih wow, ya. Menurut saya itu adalah sesuatu hal yang memberikan contoh atau hal yang bisa dilihat oleh masyarakat untuk difaktualkan ke dalam kehidupan sehari-hari.” Jelas Devinda

Karya seni rupa tiga dimensi berbentuk tangan dengan burung-burung di atasnya | Foto: Millenium/Muzemmil
Selain pementasan teater, juga terdapat pameran karya seni rupa dengan tema “Metamorfosis.” Menurut keterangan dari Alfina, tema Metamorfosis dipilih karena menggambarkan sebuah proses pertumbuhan dari beberapa hewan, seperti kupu-kupu yang awalnya berasal dari kepompong, kemudian tumbuh lagi menjadi ulat, dan tumbuh terus hingga menjadi seorang kupu-kupu dewasa.
“Jadi dalam ranah ini kita mengartikan proses tumbuhnya adek-adek yang baru, mulai dari awal mereka diklat dan belajar, entah itu belajar melukis, main band ataupun tari. Itu mereka belajar dari nol hingga mencapai pementasan yang seperti tadi malam,” ujar Alfina.
Berbagai karya seni rupa hasil ciptaan anggota baru Komunitas ditampilkan, mulai dari seni lukis, fotografi, poster hingga seni tiga dimensi. Salah satu karya yang menarik dari berbagai karya seni rupa yang ada adalah karya seni tiga dimensi dengan bahan dasar kertas yang membentuk sebuah tangan raksasa. Nampak juga lipatan kertas manila yang dilipat sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah burung yang menggantung di atas tangan raksasa.
“Yang tangan itu diartikan seperti kita yang bisa menggapai harapan seperti halnya burung yang bisa terbang tinggi dan bebas berkreasi apa pun. Karena seni itu memang sebuah kebebasan,” jelasnya.
Mahasiswa prodi Tadris Bahasa Inggris tersebut mengungkapkan bahwa penonton yang hadir dalam pertunjukan teater tidak hanya dari mahasiswa UIN KHAS Jember saja, melainkan juga mahasiswa universitas lain yang ada di jember, alumni, bahkan komunitas-komunitas di luar Kabupaten Jember juga hadir. “Kita juga mengundang UKM dari Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo dan Surabaya.”
Pameran karya seni rupa dan pertunjukan teater pada Rabu, 6 Desember 2023 hanya merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara Pentas Study Art Orientation XXI karena 5 hari setelahnya, akan diadakan acara lanjutan di lapangan depan FTIK yang menampilkan berbagai band musik dan tari-tarian.
Pentas Study Art Orientation merupakan orientasi lanjutan bagi anggota baru komunitas seni setelah melalui proses diklat. Acara ini merupakan salah satu syarat bagi anggota baru untuk disahkan menjadi anggota resmi secara administratif di UKM Komsi.
Penulis: Muzemmil Ubaidillah
Penyunting : Liyananda Rahma M.F
Tulis Komentar