Ospek Kampus: Ajang Pengenalan Atau Ladang Pendoktrinan

$rows[judul] Keterangan Gambar : Kegiatan PBAK Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

“Tiang masih berdiri

Bendera makin tinggi

Berkibar tiap pagi

Dimakan matahari”

Sepenggal lirik lagu berjudul “kami belum tentu” dari Feast mungkin bisa menggambarkan kondisi kampus-kampus yang saat ini menyambut mahasiswa-mahasiswa baru. Dimana biasanya banyak bendera-bendera berkibar di sepanjang jalan menuju kampus. Ospek kampus atau orientasi studi dan pengenalan kampus, seharusnya menjadi momen yang berharga bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik maupun budaya kampus. Namun, dalam praktiknya, dinamika ospek sering kali beralih fungsi menjadi ajang pendoktrinan oleh organisasi-organisasi tertentu atau ideologi-ideologi yang tidak selalu sejalan dengan tujuan pendidikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai esensi dari ospek itu sendiri. Apakah ospek masih berfungsi sebagai sarana pengenalan, atau justru menjadi alat untuk menyebarkan ideologi tertentu?

Dinamika ospek yang beralih menjadi ladang pendoktrinan ini dapat dilihat dari berbagai aspek. Banyak mahasiswa baru yang dihadapkan pada tekanan untuk mengikuti nilai-nilai dan ideologi yang diajarkan oleh senior atau organisasi tertentu. Biasanya proses pendoktrinan dimulai dari ajakan senior seperti “ayo ngopi”, “ayo ngumpul”. Dalam beberapa kasus, mahasiswa diajak atau bahkan dipaksa untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan akademik mereka. Hal ini menciptakan suasana yang tidak sehat, di mana mahasiswa merasa tertekan untuk menyesuaikan diri dengan paham-paham yang mungkin tidak mereka percayai. Akibatnya, proses pembelajaran yang seharusnya menjadi fokus utama justru terabaikan. Dampak dari dinamika ospek yang tidak sehat ini sangat beragam. Pertama, mahasiswa baru dapat mengalami kebingungan identitas, mereka merasa terpaksa untuk mengadopsi nilai-nilai yang tidak sesuai dengan diri mereka. Kedua, hal ini dapat menimbulkan polarisasi di kalangan mahasiswa, di mana mereka yang tidak sejalan dengan paham tertentu merasa terasing. Ketiga, jika pendoktrinan ini terus berlanjut, akan ada risiko bahwa mahasiswa tidak akan mampu berpikir kritis dan mandiri, yang merupakan salah satu tujuan utama pendidikan tinggi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat merugikan kualitas lulusan dan reputasi institusi pendidikan itu sendiri.

 

Untuk memastikan bahwa ospek kampus berjalan dengan baik dan benar, beberapa langkah perlu diambil. Diantaranya yakni institusi pendidikan harus menetapkan pedoman yang jelas mengenai tujuan dan pelaksanaan ospek. Pedoman ini harus menekankan pentingnya pengenalan budaya akademik dan nilai-nilai positif, serta melarang segala bentuk pendoktrinan ideologi tertentu. Melibatkan mahasiswa dalam perencanaan dan pelaksanaan ospek dapat memberikan perspektif yang lebih beragam dan inklusif. Dengan cara ini, mahasiswa baru dapat merasa lebih nyaman dan terlibat dalam proses pengenalan kampus. Selanjutnya, pelatihan bagi panitia ospek juga sangat penting. Panitia harus diberikan pemahaman yang mendalam tentang etika dan tanggung jawab mereka dalam menyelenggarakan ospek. Mereka perlu dilatih untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, sehingga mahasiswa baru merasa aman untuk bertanya serta  mengeksplorasi tanpa tekanan untuk mengikuti paham tertentu. Dengan demikian, ospek dapat menjadi pengalaman yang positif dan membangun, bukan sebaliknya. Selain itu, penting untuk melibatkan pihak ketiga, seperti alumni atau profesional, dalam proses ospek. Mereka dapat memberikan perspektif yang lebih luas tentang dunia akademik dan karier, serta membantu mahasiswa baru memahami pentingnya berpikir kritis dan mandiri. Dengan melibatkan berbagai pihak, ospek dapat menjadi lebih kaya dan bermanfaat bagi mahasiswa baru.

Akhirnya, evaluasi pasca-ospek juga perlu dilakukan untuk memastikan bahwa tujuan dari ospek tercapai. Melalui survei atau diskusi kelompok, mahasiswa baru dapat memberikan umpan balik tentang pengalaman mereka. Hal ini tidak hanya membantu institusi untuk memperbaiki pelaksanaan ospek di masa depan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk merasa didengar dan dihargai. Dengan langkah-langkah ini, ospek kampus dapat kembali menjadi ajang pengenalan yang positif, bukan ladang pendoktrinan yang merugikan. Perlu diingat bahwasanya opini ini tidak bermaksud menyindir organisasi atau ideology tertentu, opini ini dibuat hanya sebatas refleksi belaka. Tabik.

Penulis: Royhan Aditya Halimi



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)