Aksi kamisan di Jember | Mengenang Tragedi Semanggi pada Mei 1998, Bentuk Protes Terhadap Kelalaian

$rows[judul] Keterangan Gambar : Suarakan aspirasi, sejumlah masa aksi berorasi dengan membawa berbagai poster tuntutan sebagai bentuk protes atas tragedi 1998 (Amirul Mu'minin/UPM Millenium)

UPM Millenium , Jember- aksi kamisan yang digelar di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tepat pada kamis 23 Mei 2025 pukul 16.00 WIB hingga 17.45 WIB. Aksi ini merupakan kelanjutan dari dari diskusi memperingati 27 tahun tragedi Semanggi 1998 yang diadakan malam sebelumnya yaitu pada tanggal 22 Mei 2025. Dihadiri oleh beberapa kalangan termasuk mahasiswa dan masyarakat umum. Aksi tersebut berlangsung tanpa naungan universitas atau organisasi tertentu, tanpa kepemimpinan struktural, hanya dipimpin oleh koordinator.

Aksi ini merupakan bentuk protes terhadappemerintah karena kelalaian mereka terkait pelanggaran HAM sejak dulu hingga saat ini. Salah seorang demonstran perempuan saat berorasi menyampaikan,

"Aksi ini memperingati 27 tahun kegagalan pemerintah dalam menyelesaikan pelanggaran HAM berat Mei 1998, saat demonstrasi besar-besaran terjadi di masa pemerintahan Soeharto. Hingga kini, meskipun pemimpin negara telah berganti berkali-kali, pelanggaran HAM berat tersebut tak kunjung terselesaikan." Ucapnya. Dia juga menambhakan

 "Banyak orang tua kehilangan anak, keluarga kehilangan anggota, namun pemerintah saat itu dan hingga kini seakan tak peduli. Tragedi 1998 bahkan dianggap bukan pelanggaran HAM berat." Aksi Kamisan ini menjadi bentuk peringatan atas kelalaian negara dalam menangani kasus tersebut.

Dalam aksi tersebut mereka menyampaikan protes dengan berbagai cara. Beberapa diantaranya adalah melakukan orasi dan juga membakar lilin sebagai simbol untuk mengenang para korban. Mereka juga menaburkan bunga sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap korban. Tidak lupa mereka juga membakar foto orang-orang yang turut andil dalam pelanggaran HAM berat tersebut, termasuk Prabowo Subianto, Wiranto, Try Sutrisno, Sutiyono, dan Hendropriyono.

Dalam aksi tersebut, mereka dijaga ketat oleh aparat keamanan. Terdapat banyak kekecewaan mereka terhadap Negara yang sangat lalai akan pelanggaran HAM tersebut. sejak dulu hingga saat ini pemerintah tidak mempedulikan bahkan menganggap pelanggaran tersebut bukan masalah besar. Kekecewaan atas ketidakpedulian negara terhadap kasus ini disampaikan oleh salah satu demonstran. Ia menyatakan bahwa rezim saat ini tidak ada bedanya dengan rezim yang dulu. Dia juga menambahkan,

 "Saya jadi ingat ungkapan bahwa reformasi Orde Baru tidak pernah mati, karena reformasi Orde Baru tidak pernah lahir," pendapat ini disetujui oleh peserta aksi lainnya.

koordinator dalam aksi tersebut yaitu Tata mengatakan bahwa “aksi kamisan ini biasanya dilakukan di depan lapas, namun karena ini untuk memperingati reformasi, jadinya di depan gedung DPR”.

Reporter: Masroni Abdillah dan Amirul Mu’minin

Penulis: Izzatus Syafiqoh

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)