Carut Marut Pemira Dakwah, Perkara Stempel hingga Penerbitan Opini

$rows[judul]

UPM Millenium, Jember - Pemilihan Raya (Pemira) Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember menjadi polemik yang saat ini banyak diperbincangkan dari kalangan manapun. Polemik ini bermula pada masa pra pendaftaran pasangan calon DEMA Fakultas Dakwah Kamis (13/03/25) lalu dan kian memanas dengan bermunculanya pamflet-pamflet di media sosial terkait proses berjalanya pemira ini. Polemik pemira ini melibatkan berbagai pihak, yaitu pasangan calon Habibie – Salman, pasangan calon Zacky – Fathur, HMPS BKI, KPUM Fakultas serta mahasiswa secara umum.

Adapun awal permasalahan dari pemira ini adalah terbitnya sebuah pamflet pada hari Minggu (16/03/25) dari kalangan mahasiswa yang mengatasnamakan DPP Partai Anjing yang mengkritisi gagalnya proses paslon Habibie-Salman untuk maju dalam pencalonan DEMA Fakultas dikarenakan tercurangi dan disulitkan aksesnya dalam hak untuk dipilih. 

“Ketika hak untuk dipilih dipersulit, itu adalah penghinaan terhadap demokrasi. Ketika suara kita dbungkam, itu adalah penghianatan terhadap prinsip keadilan. Tapi ingat, perjuangan kami untuk merubah sistem kebobrokan ini tak hanya berhenti disini. Tuhan menghancurkan segala bentuk yang bathil!” tulis keterangan tersebut.

Menanggapi terkait dengan gagalnya pencalonan dirinya pada saat proses pemberkasan, Habibie dan Salman mengungkapkan bahwa pamflet tersebut berasal dari teman-temannya yang resah terkait dengan demokrasi yang ada di kampus

“Memang orang-orang yang otaknya bersih dan perlu mengkritik suatu sistem Itu teman-teman kami, bukan kita tapi memang orang orang yang membela kami Itu partai yang baru ada. Itu hanya orang-orang yang memang tertindas oleh sistem, dia memerdekakan apa yang mereka mau. Ya kita bebaskan demokrasi ya biar mereka yang menyuarakan haknya, tapi aku respect banget teman-teman  udah seperti itu dan alhamdulillah media juga. Thank you mendukung”. Ujar Salman dan ditambahi oleh Habi

Tidak lama dari itu terbitlah sebuah press release yang dikeluarkan oleh teman-teman paslon Zacky-Fathur yang menganggap bahwa telah menerima fitnah, intimidasi dan ujaran kebencian yang tidak terbukti serta melampirkan sebuah surat peringatan dari SEMA-FADA yang ditujukan kepada Salman Al-Farizi (calon wakil ketua DEMA FADA).

“Terkait press release itu bukan saya yang mengirimkan, itu kan dari teman-teman. Kita sudah laporan ke SEMA juga. Sebelum pamflet itu tersebar kita sudah bilang ke SEMA. surat SP itu bukan tiba-tiba ketika ada kayak gini. SP-nya sudah terjadi sejak lama, sudah beberapa bulan yang lalu. Bahkan bukan cuma Salman, beberapa anggota dari HMPS BKI juga kena SP. Itu kesalahannya dari SEMA, mungkin bisa kamu wawancaranya ke sema nya juga”. Ujar Zacky Artdhito Firmansyah selaku ketua paslon DEMA-FADA.

Firman  selaku ketua KPUM Fakultas Dakwah merespon bahwa protes yang dilakukan oleh paslon Habibie dan Salman menjadi hal yang biasa dalam kontestasi dan mengaggap bahwa hal ini adalah bagian dari bumbu politik. Paslon Habibie - Salman gagal maju dalam kontestasi pemira DEMA Fakultas Dakwah setelah dinyatakan tidak lolos dalam tahap pendaftaran sekaligus pemberkasan.

 “Tidak lolosnya berkas dari paslon habibie dan salman ini karena tidak adanya sebuah stempel dari pihak lembaga BKI kepada wakilnya (Salman), yang kedua adalah dari paslon tersebut tidak menyetorkan sebuah opini yang mana opini itu di publish”. Ujar Firman selaku ketua KPUM Fakultas.

Pihak paslon Habibie–Salman menyatakan terkait surat peringatan milik Salman mengalami simpang siur. “Waktu di surat rekom HMPS itu kita kan minta, yang menjadi permasalahan memang betul saya mendapatkan Surat Peringatan dari himpunan, tapi seharusnya surat peringatan himpunan ini masuk dalam sistem Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) yang seharusnya di LPJ kan dilaporkan kepada SEMA,” ungkap Salman.

“Sejauh ini ketika kita minta surat rekomendasi surat keterangan baik, SEMA mengeluarkan hal itu berarti kan disini tidak ada pelaporan dari HMPS kepada SEMA. Nah berarti yang menang siapa? Kita dong, kan iya kalo dari sistem etiknya loh kita yang menang karena kita sudah mengambil surat ini dan sudah landing. Jikalau surat ini tidak landing mungkin kita tidak mendapat surat rekom dari HMPS,” imbuh Salman

Permasalahan lainnya adalah tidak berkenannya Zacky selaku ketua HMPS BKI yang juga merupakan calon wakil DEMA Fakultas Dakwah untuk menandatangani berkas itu dengan alasan Salman tidak bisa menemuinya secara langsung yang mana pada saat itu Habibie yang mewakili Salman bertemu dengan Zacky. “Kenapa tanda tangan tidak saya kasih karena gak datang langsung ke saya. Saya minta dia datang, saya kasih tanda tangan itu”. Ujar Zacky. 

Selain berkaitan dengan tanda tangan, permasalahan lainnya adalah kesulitan yang diterima oleh Salman ketika meminta stempel organisasi yang pada saat itu dipegang oleh Zainul Hasan, selaku sekretaris HMPS BKI. Mereka bahkan sudah berulangkali menghubungi Zainul Hasan akan tetapi tidak mendapatkan balasan hingga batas waktu waktu pengumpulan berkas. Karena kesulitan tersebut, akhirnya Habibie-Salman meminta keringanan kepada Firman selaku Ketua KPUM Fakultas agar batas pengumpulan berkas diperpanjang hingga pukul 03.00 WIB. Namun, meskipun diperpanjang, pihak Habibie-Salman tetap tidak mendapatkan stempel yang dipegang oleh Sekretaris HMPS BKI.

 “Dia kan sekretaris saya ketika saya membutuhkan apa-apa, siang maupun malam dia tetap susah menghubunginya, dari dulu bukan cuman sekarang-sekarang”. Ujar Zacky menerangkan sifat dari Zainul Hasan. Kemudian Zacky menyambung “Kenapa ketika dia minta rekomendasi dari wadek 3, Pak Minan, kan di sana ada Zaha, dia juga minta rekom, Kenapa dia nggak minta stempel juga. Padahal dia ada di fakultas” 

Pihak paslon Habibie-Salman membantah terkait opini yang harus disetorkan pada saat pemberkasan, menurut mereka timeline opini seharusnya dikumpulkan saat masa kampanye (18/03/25). Paslon Habibie-Salman mengaku tidak tau menau terkait adanya perubahan jadwal dari pengumpulan opini ini, dikarenakan pada hari terakhir pengumpulan berkas, paslon Habibie-Salman membandingkan berkasnya dengan paslon Fathur-Zacky dan mengaku bahwa tidak menemukan berkas berupa opini itu di paslon sebelah.

“Opini yang di publish waktu itu tidak berbentuk fisik, Mas Habi (nama panggilan Habibie) meminta untuk melihat berkas punya paslon sebelah dan sudah di cek satu persatu.. Berkas (opini) milik paslon Fathur Zacky juga tidak ada dalam berkas itu, akan tetapi Mas Fathur dan Zacky langsung mengirimnya ke KPUM Univ ke Kak Salman (Sekretaris KPUM  U), kemudian KPUM Univ mencetak berkas itu disana. Saya kira Mas Habi telah mengirim ke pihak KPUM Univ karena paslon Fathur dan Zacky tidak mengirim opini yang di publish itu ke saya,” Firman menambahi.

“Ternyata dari pihak Mas Fathur tidak langsung mengirim ke pihak Univ, tetapi ngepublish dan membuat insta story di wa, kemudian dilihat oleh KPUM Univ terutama ke Kak Salman (Sekretaris KPUM), jadi pihak KPUM Univ sudah tau paslon Fathur dan Zaki sudah membuat opini yang di publish”. Di akhir kata Firman menutup

Firman pun mengakui bahwa terjadi ketidakonsistenan terkait persyaratan opini karena awalnya tidak ada peraturan yang mengharuskan untuk di print tetapi hanya di publish di media massa saja. Akan tetapi, ia menerima informasi pada saat penutupan pendaftaran dari KPUM U bahwa opini harus di print dan dilampirkan di dalam berkas pendaftaran

Habibie yang juga merupakan ketua umum HMPS Psikologi Islam  turut menuding bahwa telah terjadi pengorganisiran teknis dari pihak KPUM dengan tidak membagikan peraturan dan persyaratan bagi yang akan mencalonkan diri di instagram resmi KPUM Dakwah, termasuk template surat rekomendasi Wakil Dekan III. “Saya menelpon langsung ketua KPUM Universitas, Hasbullah. Dikirimlah akhirnya untuk file rekom Dekan III,” kata Habi.

Pihak KPUM belum berfikiran untuk mengadakan mediasi lanjutan dikarenakan yang dipermasalahkan oleh pihak Habibie-Salman bukan berasal dari KPUM, baik fakultas maupun universitas. Tetapi dari pihak HMPS BKI.

Firman menyoroti tentang kemungkinan ada atau tidaknya pemilihan atau pencalonan ulang. “Untuk pencalonan ulang kalau dari saya pribadi mengikuti rute pemira sudah tidak bisa kecuali dari pihak KPUM Universitas itu mengadakan pencalonan atau pendaftaran ulang, akan tetapi harus mencari wakil lain karena munculnya surat peringatan dari SEMA Fakultas.”

“Pihak KPUM sangat netral karena dari kami juga tidak ada pilih kasih, baik sema, dema maupun hmps semua kami terima berkasnya dan juga untuk habi sudah melihat berkas dari paslon lawannya (fathur dan zacky),” sambung Firman.

Reporter: M. Hanif Rojabi, Amirul Mukminin, Eka Robiatul A.

Editor: Muzemmil Ubaidillah 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)