Ruang kelas terasa pengap meskipun jendela sudah terbuka menganga. Bukan karena udara yang panas, tapi karena otak kami dijejali dengan penjelasan Bu Zahfi yang tak bisa kami pahami. Suaranya tersendat-sendat sambil sesekali melihat ke layar presentasi, seperti seseorang membaca sesuatu yang baru pertama kali ia pahami.
“Jadi… ehm… customer loyalty ini bisa kita… ehm…” Ia berhenti, jari gemetar menunjuk ke sebuah grafik yang lebih mirip denah lokasi parkir. “Kalau dalam akuntansi perpajakan, loyalitas pelanggan bisa dihitung sebagai aset tidak berwujud, tapi…”
Arka menoleh ke arahku, alisnya menukik tajam. “Dia pikir kita mau nerbitin laporan keuangan pelanggan?” bisiknya sambil menyembunyikan senyum getir.
“Mungkin besok kita disuruh hitung PPN dari brand awareness,” sahutku.
Bu Zahfi berhenti sejenak sambil menyeka peluhnya yang terus bercucuran lalu melirik layar seakan berharap akan menemukan jawabannya di sana. Aku menatap Arka di sampingku yang mendesah panjang sambil garuk-garuk kepala.
“Ya, ini jadinya kalau orang akuntansi perpajakan disuruh ngajar manajemen pemasaran,” bisiknya pelan.
Di luar jendela, pohon flamboyan bergoyang menertawakan absurditas ini. Tapi yang lebih absurd adalah papan pengumuman di lorong kampus: “Dosen Berkualitas, Kurikulum Terintegrasi!” dengan foto dekanat fakultas.
Aku hanya menatap dengan ekspresi kebingungan. Semua orang di ruangan ini tahu bahwa semua persoalan akuntansi perpajakan bisa dicarikan solusinya oleh Bu Zahfi, tetapi entah mengapa kampus juga memintanya mengajar manajemen pemasaran. Hasilnya? Sebuah perkuliahan yang lebih banyak jeda ragu-ragu daripada pemahaman yang utuh.
Kepala program studi ketika dimintai pertanggungjawaban mengenai hal ini pernah berkilah, “seluruh dosen sudah overload jam mengajarnya sehingga perlu ada dosen tambahan dari program studi lain!”
Dosen-dosen itu mungkin sudah berusaha, tetapi aku bisa melihat mata mereka kosong setiap kali menjelaskan materi yang tak benar-benar mereka kuasai. Mereka seperti burung yang terjebak dalam sangkar, dipaksa berkicau tentang sesuatu yang bukan dunianya.
Mahasiswa hanya duduk di kelas sambil dipaksa menerima ironi dalam perguruan tinggi. Ada dosen-dosen yang dirantai oleh kurikulum absurd dan mahasiswa yang membayar untuk jadi penonton tragedi intelektual.
Sore setelah kegiatan perkuliahan, aku, Arka, dan Dika berjalan menuju perpustakaan. Di dalam tas ada laporan magang yang baru saja dikembalikan oleh pembimbing. Kali ini bukan karena kesalahan dalam penulisan atau kurangnya data yang mendalam melainkan karena satu hal yang selalu disebut sejak pertama kali magang, kutipan dari dosen fakultas.
“Aku sudah pakai dua artikel dari Pak Jaya, tapi masih kurang?” keluh Arka sambil melemparkan laporannya di meja kayu sudut perpustakaan.
Aku meletakkan tasku di kursi sebelahnya sambil menghela nafas. “Kata Bu Rina minimal lima.”
“Konyol, kenapa kita dipaksa harus mengutip artikel karya dosen sendiri. Bukankah jika artikel itu berkualitas akan banyak peneliti yang membuka kemudian mengutipnya?” Raka dengan ketus
Dika mengeluarkan laptopnya dengan gerakan lesu. Layarnya masih terbuka di artikel Pak Sugeng bertajuk “Konsep Murabahah dalam Akuntansi Syariah”. “Aku harus nyelipin ini di laporan penghapusan aset pemerintah. Bayangin—padahal penelitianku nggak ada hubungannya sama sekali dengan akuntansi syariah. Ini namanya academic forced marriage.”
Atau jurnal prostitusi,” sahut Arka sambil scroll daftar publikasi dosen di situs kampus. “Lihat nih—artikel Bu Rina tahun ini: ‘Pengaruh Warna Cat Tembok terhadap Produktivitas Akuntan’. Diterbitkan di Jurnal Abal-Abal Ilmiah, volume 69, halaman 666.”
“Harusnya kita bikin petisi,” gerutu Dika, “Laporan magang wajib mencantumkan disclaimer: ‘Kutipan dalam dokumen ini tidak mencerminkan kualitas peneliti, melainkan keterpaksaan sistemik’.”
Kami pun terkekeh sinis. Sejak awal kami tahu bahwa menulis laporan magang bukan hanya soal mendokumentasikan kegiatan selama magang, ada kepentingan yang bermain di baliknya. Publikasi di fakultas ini memang rendah. Maka, satu-satunya cara untuk menaikkan angka sitasi mereka adalah dengan menjadikan mahasiswa sebagai alat.
Dua minggu setelahnya, laporan magang kami diterima oleh pihak fakultas. Kutipan sudah ditambahkan, jurnal dosen sudah dimasukkan, dan administrasi akademik akhirnya merestui kerja keras kami—meskipun sebagian besar isinya lebih memenuhi kepentingan institusi daripada mencerminkan pengalaman kami di lapangan. Kami terpaksa menyelesaikan revisi dengan “aturan main” yang telah ada sebelumnya.
Di lorong kampus, Aku dan Arka duduk di kursi panjang sambil menunggu giliran tanda tangan dosen.
“Kita berhasil juga,” kataku sambil menyederkan bahu di penyangga kursi.
“Berhasil,” Arka dengan nada tinggi “Berhasil lulus atau berhasil jadi korban sistem?”
Aku menghela napas. "Setidaknya kita nggak harus revisi lagi."
Seorang mahasiswa berjalan melewati kami dengan wajah masam, membawa laporan magangnya yang penuh coretan. Aku bisa menebak isi revisinya—kurang banyak mengutip jurnal dosen.
"Kira-kira kapan ya, kampus ini benar-benar jadi tempat belajar, bukan tempat sekadar memenuhi ego akademik?" tanya Arka.
Aku tersenyum tipis. "Mungkin kalau nanti kita yang jadi dosennya."
Dia tertawa kecil. "Tapi kalau kita ikut sistem yang sama, bukankah kita cuma jadi bagian dari labirin ini?"
Aku terdiam sejenak, lalu menatap langit yang masih mendung. "Mungkin, kita harus jadi yang pertama keluar dari labirin ini."
Raka mengangguk pelan. "Kalau gitu, jangan lupa. Kalau suatu hari aku lupa jalan keluarnya, ingetin aku, ya."
Aku tersenyum. "Siap, Profesor Arka."
Kami tertawa bersama. Entah kapan labirin ini akan runtuh, tapi setidaknya kami tahu bahwa dunia akademik seharusnya bukan tempat membangun tembok kepentingan, melainkan tempat membuka pintu wawasan.
Penulis: Muzemmil Ubaidillah
Editor: M. Faizal Prarama
Tulis Komentar